Pages

TV ONLINE

CARA PASANG TV

12 Februari, 2011

ALAMAT INSTITUSI KAMPUS ARSITEKTUR DI INDONESIA

ALAMAT INSTITUSI KAMPUS ARSITEKTUR DI INDONESIA

No. Unversitas Alamat Telephone
1. Universitas Muhammadiyah Jl. KHA Dahlan No. 7, Banda Aceh
2. Universitas Katholik St. Thomas Jl. S. Parman No. 107, Medan
061-528102
3. Universitas Medan Area Jl. Jend. Gatot Subroto No. 288, Medan 061-525788
4. Universitas Pembangunan Panca Budi Jl. Jend. Gatot Subroto
KM 4,5, Medan061-519571
5. Universitas Sisingamangaraja XII Jl. Urip No. 9, Medan 061-516447
6. Institut Teknologi Medan Jl. Gedung Arca No. 52, Medan 061-326725
7. Institut Sains dan Teknologi TD Pardede Jl. Syailendra No. 8, Medan
061-28932
8. Universitas Sumatera Utara (USU) Jl. Universitas No.9, Medan
061-521623/524033
9. Universitas Indonesia (UI) Jl. Salemba Raya No. 4, Jakarta
021-330355/330343/7270020
10. Universitas Borobudur JL. Kalimalang No. 1, Jakarta Timur
021-8198894/8199598
11. Universitas Islam Attahiriyah Jl. Kampung Melayu Kecil III/28, Tebet,
Jaksel 021-8291018
12. Universitas Jakarta Jl. Pulomas Barat Villa Tanah Mas, Jakarta
13210 021-4894521
13. Universitas Jayabaya Jl. Jend. A Yani – By Pass, Pulo Mas, Jakarta
021-414771/413458
14. Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jl. Jatiwaringin Pondok Gede, Jakarta
PO. BOX 7774/JAT CM Jakarta, 13077 021-8462230/8462231
15. Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jl. Letjen. Soetoyo, Cawang,
Jakarta 021-8090311
16. Universitas Mercu Buana (UMB) Jl. Raya Meruya Udik, Kebon Jeruk,
Jakarta 021-5340813/5340814
17. Universitas Mpu Tantular Jl. Cipinang Besar No. 2, Jakarta
Timur 021-8502913
18. Universitas Muhammadiyah Jl. Ciputat Raya, Jakarta Selatan
021-741894
19. Universitas Pancasila Jl. Lenteng Agung, Pasar Minggu, Jaksel
021-7270085/7270087
20. Universitas Persada Indonesia “YAI” Jl. Biru Laut timur, Kelapa Gading,
Jakarta 021-7890146
21. Universitas Tarumanegara Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta
Barat 021-5604004/5604002
22. Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa, Grogol, Jakarta Barat
021-5663231/5663232
23. Universitas Pelita Harapan Jl. Taman Kedoya Barat No. 8 Jakarta
Barat 021-5801568/5804810
24. Institut Sains dan Teknologi Nasional Jl. Moh. Kahfi No.11 Srengseng
Indah, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12640 021-7270090
25. Institut Teknologi Indonesia Jl. Raya Puspitek, Serpong, Tangerang
021-7560542/7560545
26. Universitas Indonesia Kampus UI Depok
Jl. Salemba Raya No. 4, Jakarta 021-330355/330343/7270020
7270021/7270022/7270023
27. Universitas Katolik Parahyangan Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung
022-83691/83692
28. Universitas Langlang Buana Jl. Karapitan No. 116 A, Bandung
022-430601
29. Universitas Winaya Mukti Jl. Winaya Mukti No.3,Jatinangor,
Sumedang 022-798139
30. Institut Teknologi Bandung Jl. Taman Sari No. 64, Bandung
022-83047/83048
83414/431792
31. Institut Teknologi Adityawarman Jl. RE. Martadinata No. 102,
Bandung 022-708331
32. Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Jl. Penghulu KH. Hasan Mustafa No.
23, Bandung 022-72218
33. Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Jl. Ir. Juanda No. 126 F - 130 C,
Bandung 022-
34. Sekolah Tinggi Teknik Industri Garut Jl. Cimanuk No. 93 B, Garut
0262-22321
35. Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) Prof. Dati. I Jawa Barat Jl.
Perjuangan, Cirebon
36. Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Jl. Dr. Setia Budi No. 229,
Bandung 022-21365/213161
37. Universitas Katolik Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/1,
Semarang 024-316142/316167
38. Universitas Pandanaran Jl. Kelud Raya, Semarang 024-
39. Universitas 17 Agustus 1945 Jl. Pawiyatan Luhur IV, Semarang 024-
40. Universitas Diponegoro Jl. Prof.Sudharto Pedalangan Tembalang 024-
41. Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani, Pabelan Tromol Pos I,
Surakarta 0271-47417/45493
42. Universitas Tunas Pembangunan Jl. Walanda Maramis No. 31, Solo
0271-31745
43. Universitas Sebelas Maret Solo Jl. Ir. Sutami No. 36 A, Kentingan,
Surakarta 0271-36623
44. Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto Jl. Karang Salam, Purwokerto
0281-21889
45. Universitas Katolik Dharma Cendika Jl. Deles I/29, Surabaya
031-596462
46. Universitas Kristen Petra Jl. Siwalan Kerto No. 121-131,
Surabaya 031-839040
47. Universitas Merdeka Surabaya Jl. Karah Agung No. 11, Surabaya
031-44029
48. Universitas Muhammadiyah Surabaya Jl. Pucang Adi No. 124,
Surabaya 031-581336
49. Universitas 17 Agustus 1945 Jl. Semolowaru No. 45, Surabaya 031-578755
50. Universitas Widya Kartika Jl. Dharma Husada Indah Barat VI/1,
Surabaya 031-595312
595313
51. Universitas Al - Falah Jl. Taman Mayangkara No. 2-4, Surabaya
52. Institut Teknologi Adhitama Surabaya Jl. Arief Rachman Hakim No. 100,
Surabaya 031-5945093/5946331
53. Insitut Teknologi 10 November Kampus ITS Keputih Sukolilo
Kotak Pos 5164 Surabaya 031-597264/597274
Fax. 031-597845
54. Universitas Merdeka Malang Jl. Terusan Raya Dieng No. 62-64,
Malang 0361-28395
55. Universitas Brawijaya Jl. Mayjen Haryono No. 169, Malang
0361-51611/51614/51097
56. Institut Teknologi Nasional Malang Jl. Bendungan Sigura-gura No. 2,
Malang 0361-51951
57. Universitas Dwijendra Jl. Kamboja, Denpasar 0361-24383
58. Universitas Warmadewa Jl. Teropong Tanjung Bungkak, Denpasar 0361-23858
59. Universitas Ngurah Rai Jl. Padama, Penatih, Denpasar Timur 0361-34017
60. Universitas Udayana Jl. Kampus Bukit Jimbaran, Denpasar 0361-71854
Fax. 0361-71607
61. Universitas Sam Ratulangi Kampus Unsrat Bahu, Menado
0431-63786/63586/63886
62. Universitas Hassanudin Jl. 0411-312424 Fax. 312110
63. Universitas Tadulako Jl. Kampus Bumi Bahari Tadulako, Tondo,Palu
0451-22355
64. Universitas Katolik Atmajaya Jl. Babarsari No.44, Yogyakarta
0276-565411/565258
65. Universitas Islam Indonesia Jl. Cik Di Tiro No. 1, Yogyakarta
0276-513091/587115/563207
66. Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wahidin No. 5-9, Yogyakarta
0276-513606
67. Universitas Widya Mataram Jl. Ndalem Mangkubumen Kp. III/237,
Yogya 0276-74352
68. Universitas Gajahmada Jl. Bulaksumur , Yogya 0276-
69. Akademi Teknik YKPN Jl. Gagak Rimang No.1, Yogyakarta 0276-587469
70. Institut Teknologi Tomohon
71. Institut Teknologi Minaesa

PENGANTAR STRUKTUR BENTANG LEBAR

neomodern31
1. Pengertian Struktur dan Konstruksi
Sebelum mengenal lebih jauh struktur bentang lebar, perlu dipahami dulu kata-kata yang selalu mengikut di depannya, yaitu kata Struktur dan konstruksi. Dua kata ini merupakan hal sederhana, namun sering harus diulang untuk menghindari kesalahpahaman penggunaan kata. Dalam suatu bangunan, struktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaan dan atau kehadiran bangunan ke dalam tanah. Struktur juga dapat didefinisikan sebagai suatu entitas fisik yang memiliki sifat keseluruhan yang dapat dipahami sebagai suatu organisasi unsur-unsur pokok yang ditempatkan dalam suatu ruang yang didalamnya karakter keseluruhan itu mendominasi interelasi bagian-bagiannya( Shodek, 1998:3). Struktur merupakan bagian bangunan yang menyalurkan beban-beban (Macdonald, 2001:1). Struktur dianggap sebagai alat untuk mewujudkan gaya-gaya ekstern menjadi mekanisme pemikulan beban intern untuk menopang dan memperkuat suatu konsep arsitektural (Snyder&Catanese,1989:359)
Sedangkan konstruksi adalah pembuatan atau rancang bangun serta penyusunannya bangunan. Ervianto, 2002: 9, menjelaskan bahwa konstruksi merupakan suatu kegiatan mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Dalam artian sederhananya struktur adalah susunannya dan konstruksi adalah penyusunan dari susunan-susunan, sehingga dari pengertian tersebut dapat diambil sustu kesimpulan bahwa konsruksi mencakup secara keseluruhan bangunan dan bagian terkecil atau detail dari tersebut adalah struktur.
Penafsiran yang lebih luas tentang struktur adalah yang didalamnya alat-alat penopang dan metode-metode konstruksi dianggap sebagai faktor intrinsik dan penentu bentuk dalam proses perancangan bangunan. (Snyder&Catanese,1989:359)
Berdasarkan buku Sistem Bentuk Struktur Bangunan (Frick, 1998: 28), struktur dan konstruksi dibedakan berdasarkan fungsinya sebagai berikut:
Fungsi konstruksi: mendayagunakan konstruksi dalam hubungannya dengan daya tahan, masa pakai terhadap gaya-gaya dan tuntutan fisik lainnya.
Struktur: Menentukan aturan yang mendayagunakan hubungan antara konstruksi dan bentuk. Struktur berpengaruh pada teknik dan estetika. Pada teknik, struktur berpengaruh pada kekukuhan gedung terhadap pengaruh luar maupun bebannya sendiri yang dapat mengakibatkan perubahan bentuk atau robohnya bnagunan. Sedangkan estetika dilihat dari segi keindahan gedung secara intergral dan kualitas arsitektural.
2. Definisi Struktur Bentang Lebar
Bangunan bentang lebar merupakan bangunan yang memungkinkan penggunaan ruang bebas kolom yang selebar dan sepanjang mungkin. Bangunan bentang lebar biasanya digolongkan secar umum menjadi 2 yaitu bentang lebar sederhana dan bentang lebar kompleks. Bentang lebar sederhana berarti bahwa konstruksi bentang lebar yang ada dipergunakan langsung pada bangunan berdasarkan teori dasar dan tidak dilakukan modifikasi pada bentuk yang ada. Sedangkan bentang lebar kompleks merupakan bentuk struktur bentang lebar yang melakukan modifikasi dari bentuk dasar, bahkan kadang dilakukan penggabungan terhadap beberapa sistem struktur bentang lebar.
3. Contoh-Contoh Bangunan Bentang Lebar, Baik Sederhana Maupun Kompleks.
Berdasarkan penertian yang diuraikan, seara lebih jelas bentuk struktur bentang lebar sederhana dan bentang lebar kompleks dapat di lihat pada gambar di bawah ini:
bentang sederhana
Bangunan bentang lebar sederhana
bentang lebar kompleks
Contoh Bentuk Bangunan Bentang Lebar Kompleks
4. Guna dan fungsi bangunan bentang lebar.
Berdasarkan gambar-gambar di atas, bangunan bentang lebar dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang membutuhkan ruang bebas kolom yang cukup besar, seperti untuk kegiatan olah raga berupa gedung stadion, pertunjukan berupa gedung pertunjukan, audiotorium dan kegiatan pameran atau gedung exhibition.
5. Tingkat kerumitan, masalah dan teknik pemecahan masalah dlm bangunan bentang lebar, dan struktur yang digunakan pada bangunan bentang lebar
Struktur bentang lebar, memiliki tingkat kerumitan yang berbeda satu dengan lainnya. Kerumitan yang timbul dipenaruhi oleh gaya yang terjadi pada struktur tersebut dan beberapa hal lain yang akan di bahas di masing-masing bab. Secara umum, gaya dan macam struktur bentang lebar dapat dilihat pada gambar di bawah ini: (Frick, 1998)
Dalam Schodek, 1998, struktur bentang lebar dibagi ke dalam beberapa sistem struktur yaitu:
a. Struktur Rangka Batang dan rangka Ruang
b. Struktur Furnicular, yaitu kabel dan pelengkung
c. Struktur Plan dan Grid
d. Struktur Membran meliputi Pneumatik dan struktur tent(tenda) dan net (jaring)
e. Struktur Cangkang
Sedangkan Sutrisno, 1989, membagi ke dalam 2 bagian yaitu:
a. Struktur ruang, yang terdiri atas:
- Konstruksi bangunan petak ( Struktur rangka batang)
- Struktur Rangka Ruang
b. Struktur permukaan bidang, terdiri atas:
- Struktur Lipatan
- Struktur Cangkang
- Membran dan Struktur Membran
- Struktur Pneumatik
c. Struktur Kabel dan jaringan
6. Struktur dan Konstruksi ditinjau dari segi Islam
Struktur dan konstruksi merupakan suatu bagian dari ilmu arsitektur dengan fungsi seperti yang dikemukakan sebelumnya sebagai pendukung pencapaian bentuk dalam arsitektur. Sebagai sebuah ilmu, merupakan suatu hal yang penting untuk menpelajari dan mendalaminya. Dalam Al. Alaq ayat 1, Allah memerintahkan kita untuk membaca. Ayat ini sudah ditafsirkan dengan berbagai versi yang intinya satu, untuk terus belajar di dalam hidup.
Penguasaan struktur dan konstruksi sangat penting, mengingat peranannya sebagai penentu kekuatan bangunan. Bangunan yang lemah, dapat menjadi musibah bagi penghuni yang ada di dalamnya. Apalagi mengingat bentang lebar dengan perkiraan minimal orang yang diwadahi sekitar dua ribu orang. Belajar ilmu struktur bentang lebar, berarti belajar untuk menghargai hidup orang lain. Bangunan yang kokoh akan memberikan ketenangan bagi orang yang ada di dalamnya.
Dengan penguasaan ilmu struktur dan konstruksi juga, manusia bisa lebih berhemat dan tidak menjadi mubatsir dalam mengaplikasikan sistem struktur dan konstruksinya, guna pemenuhan target kearsitekturalannya. Penguasaan struktur dan konstruksi akan sangat mendukung surah Asy Syu’araa 128 untuk tidak bermain-main (bermewah-mewah) mendirikan bangunan di tanah tinggi. Selain itu, menjadikan orang untuk tidak takabur. Dalam bentuk struktur, ada struktur kabel yang dapat membuat rumah seperti rumah laba-laba. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (Al Ankabuut 41). Adanya peringatan ini membuat manusia, atau si arsitek tetap sadar bahwa bagaimanapun kuatnya struktur yang dibuat, semua tetap bergantung pada kekuasaan Allah SWT.

Struktur Rangka Batang

Rangka batang adalah susunan elemen-elemen linier yang membentuk segitiga atau kombinasi segitiga, sehingga menjadi bentuk rangka yang tidak dapat berubah bentuk bila diberi beban eksternal tanpa adanya perubahan bentuk pada satu atau lebih batangnya. Setiap elemen tersebut dianggap tergabung pada titik hubungnya dengan sambungan sendi. Sedangkan batang-batang tersebut dihubungkan sedemikian rupa sehingga semua beban dan reaksi hanya terjadi pada titik hubung.

4.1.1. Prinsip – prinsip Umum Rangka Batang
a. Prinsip Dasar Triangulasi
Prinsip utama yang mendasari penggunaan rangka batang sebagai struktur pemikul beban adalah penyusunan elemen menjadi konfigurasi segitiga yang menghasilkan bentuk stabil. Pada bentuk segiempat atau bujursangkar, bila struktur tersebut diberi beban, maka akan terjadi deformasi masif dan menjadikan struktur tak stabil. Bila struktur ini diberi beban, maka akan membentuk suatu mekanisme runtuh (collapse), sebagaimana diilustrasikan pada gambar berikut ini. Struktur yang demikian dapat berubah bentuk dengan mudah tanpa adanya perubahan pada panjang setiap batang. Sebaliknya, konfigurasi segitiga tidak dapat berubah bentuk atau runtuh, sehingga dapat dikatakan bahwa bentuk ini stabil (Gambar 4.1).
Pada struktur stabil, setiap deformasi yang terjadi relatif kecil dan dikaitkan dengan perubahan panjang batang yang diakibatkan oleh gaya yang timbul di dalam batang sebagai akibat dari beban eksternal. Selain itu, sudut yang terbentuk antara dua batang tidak akan berubah apabila struktur stabil tersebut dibebani. Hal ini sangat berbeda dengan mekanisme yang terjadi pada bentuk tak stabil, dimana sudut antara dua batangnya berubah sangat besar.
Pada struktur stabil, gaya eksternal menyebabkan timbulnya gaya pada batang-batang. Gaya-gaya tersebut adalah gaya tarik dan tekan murni. Lentur (bending) tidak akan terjadi selama gaya eksternal berada pada titik nodal (titik simpul). Bila susunan segitiga dari batang-batang adalah bentuk stabil, maka sembarang susunan segitiga juga membentuk struktur stabil dan kukuh. Hal ini merupakan prinsip dasar penggunaan rangka batang pada gedung. Bentuk kaku yang lebih besar untuk sembarang geometri dapat dibuat dengan memperbesar segitiga-segitiga itu. Untuk rangka batang yang hanya memikul beban vertikal, pada batang tepi atas umumnya timbul gaya tekan, dan pada tepi bawah umumnya timbul gaya tarik. Gaya tarik atau tekan ini dapat timbul pada setiap batang dan mungkin terjadi pola yang berganti-ganti antara tarik dan tekan.
Penekanan pada prinsip struktur rangka batang adalah bahwa struktur hanya dibebani dengan beban-beban terpusat pada titik-titik hubung agar batang-batangnya mengalami gaya tarik atau tekan. Bila beban bekerja langsung pada batang, maka timbul pula tegangan lentur pada batang itu sehingga desain batang sangat rumit dan tingkat efisiensi menyeluruh pada batang menurun.
b. Analisa Kualitatif Gaya Batang
Perilaku gaya-gaya dalam setiap batang pada rangka batang dapat ditentukan dengan menerapkan persamaan dasar keseimbangan. Untuk konfigurasi rangka batang sederhana, sifat gaya tersebut (tarik, tekan atau nol) dapat ditentukan dengan memberikan gambaran bagaimana rangka batang tersebut memikul beban. Salah satu cara untuk menentukan gaya dalam batang pada rangka batang adalah dengan menggambarkan bentuk deformasi yang mungkin terjadi. Mekanisme gaya yang terjadi pada konfigurasi rangka batang sederhana dapat dilihat pada Gambar 4.2. Metode untuk menggambarkan gaya-gaya pada rangka batang adalah berdasarkan pada tinjauan keseimbangan titik hubung. Secara umum rangka batang kompleks memang harus dianalisis secara matematis agar diperoleh hasil yang benar.
4.1.2. Analisa Rangka Batang
a. Stabilitas
Langkah pertama pada analisis rangka batang adalah menentukan apakah rangka batang itu mempunyai konfigurasi yang stabil atau tidak. Secara umum, setiap rangka batang yang merupakan susunan bentuk dasar segitiga merupakan struktur yang stabil. Pola susunan batang yang tidak segitiga, umumnya kurang stabil. Rangka batang yang tidak stabil dan akan runtuh apabila dibebani, karena rangka batang ini tidak mempunyai jumlah batang yang mencukupi untuk mempertahankan hubungan geometri yang tetap antara titik-titik hubungnya (Gambar 4.3).
Penting untuk menentukan apakah konfigurasi batang stabil atau tidak stabil. Keruntuhan total dapat terjadi bila struktur tak stabil terbebani. Pola yang tidak biasa seringkali menyulitkan penyelidikan kestabilannya. Pada suatu rangka batang, dapat digunakan batang melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk mencapai kestabilan. Untuk menentukan kestabilan rangka batang bidang, digunakan persamaan yang menghubungkan banyaknya titik hubung pada rangka batang dengan banyaknya batang yang diperlukan untuk mencapai kestabilan (lihat sub bab 3.6).
Aspek lain dalam stabilitas adalah bahwa konfigurasi batang dapat digunakan untuk menstabilkan struktur terhadap beban lateral. Gambar 4.4 menunjukan cara menstabilkan struktur dengan menggunakan batangbatang kaku (bracing). Kabel dapat digunakan sebagai pengganti dari batang kaku, bila gaya yang dipikul adalah gaya tarik saja. Tinjauan stabilitas sejauh ini beranggapan bahwa semua elemen rangka batang dapat memikul gaya tarik dan tekan dengan sama baiknya. Elemen kabel tidak dapat memenuhi asumsi ini, karena kabel akan melengkung bila dibebani gaya tekan. Ketika pembebanan datang dari suatu arah, maka gaya tekan atau gaya tarik mungkin timbul pada diagonal, sesuai dengan arah diagonal tersebut. Suatu struktur dengan satu kabel diagonal mungkin tidak stabil. Namun bila kabel digunakan dengan sistem kabel silang, dimana satu kabel memikul seluruh gaya horisiontal dan kabel lainnya menekuk tanpa menimbulkan bahaya terhadap struktur, maka kestabilan dapat tercapai.
b. Gaya Batang
Prinsip yang mendasari teknik analisis gaya batang adalah bahwa setiap struktur atau setiap bagian dari setiap struktur harus berada dalam kondisi seimbang. Gaya-gaya batang yang bekerja pada titik hubung rangka batang pada semua bagian struktur harus berada dalam keseimbangan, seperti pada Gambar 4.5. Prinsip ini merupakan kunci utama dari analisis rangka batang.
c. Metode Analisis Rangka Batang
Beberapa metode digunakan untuk menganalisa rangka batang. Metode-metode ini pada prinsipnya didasarkan pada prinsip keseimbangan. Metode-metode yang umum digunakan untuk analisa rangka batang adalah sebagai berikut :
???? Keseimbangan Titik Hubung pada Rangka Batang
Pada analisis rangka batang dengan metode titik hubung (joint), rangka batang dianggap sebagai gabungan batang dan titik hubung. Gaya batang diperoleh dengan meninjau keseimbangan titik-titik hubung. Setiap titik hubung harus berada dalam keseimbangan.
???? Keseimbangan Potongan
Prinsip yang mendasari teknik analisis dengan metode ini adalah bahwa setiap bagian dari suatu struktur harus berada dalam keseimbangan. Dengan demikian, bagian yang dapat ditinjau dapat pula mencakup banyak titik hubung dan batang. Konsep peninjauan keseimbangan pada bagian dari suatu struktur yang bukan hanya satu titik hubung merupakan cara yang sangat berguna dan merupakan dasar untuk analisis dan desain rangka batang, juga banyak desain struktur lain.
Perbedaan antara kedua metode tersebut di atas adalah dalam peninjauan keseimbangan rotasionalnya. Metode keseimbangan titik hubung, biasanya digunakan apabila ingin mengetahui semua gaya batang. Sedangkan metode potongan biasanya digunakan apabila ingin mengetahui hanya sejumlah terbatas gaya batang.
???? Gaya Geser dan Momen pada Rangka Batang Metode ini merupakan cara khusus untuk meninjau bagaimana rangka batang memikul beban yang melibatkan gaya dan momen eksternal, serta gaya dan momen tahanan internal pada rangka batang.
Agar keseimbangan vertikal potongan struktur dapat dijamin, maka gaya geser eksternal harus diimbangi dengan gaya geser tahanan total atau gaya geser tahanan internal (VR), yang besarnya sama tapi arahnya berlawanan dengan gaya geser eksternal. Efek rotasional total dari gaya internal tersebut juga harus diimbangi dengan momen tahanan internal (MR) yang besarnya sama dan berlawanan arah dengan momen lentur eksternal. Sehingga memenuhi syarat keseimbangan, dimana :
E R M = M atau ? = 0 E R M M (4.1)
d. Rangka Batang Statis Tak Tentu
Rangka batang statis tak tentu tidak dapat dianalisis hanya dengan menggunakan persamaan kesimbangan statika, karena kelebihan banyaknya tumpuan atau banyaknya batang yang menjadi variabel. Pada struktur statis tak tentu, keseimbangan translasional dan rotasional (????Fx=0, ????Fy=0, dan ????Mo=0) masih berlaku. Pemahaman struktur statis tak tentu adalah struktur yang gaya-gaya dalamnya bergantung pada sifat-sifat fisik elemen strukturnya.
e. Penggunaan Elemen (Batang) Tarik Khusus : Kabel
Selain elemen batang yang sudah dibahas di atas, ada elemen lain yang berguna, yaitu elemen kabel, yang hanya mampu memikul tarik. Secara fisik, elemen ini biasanya berupa batang baja berpenampang kecil atau kabel terjalin. Elemen ini tidak mampu memikul beban tekan, tetapi sering digunakan apabila hasil analisis diketahui selalu memikul beban tarik. Elemen yang hanya memikul beban tarik dapat mempunyai penampang melintang yang jauh lebih kecil dibanding dengan memikul beban tekan.
f. Rangka Batang Ruang
Kestabilan yang ada pada pola batang segitiga dapat diperluas ke dalam tiga dimensi. Pada rangka batang bidang, bentuk segitiga sederhana merupakan dasar, sedangkan bentuk dasar pada rangka batang ruang adalah tetrahedron. Prinsip-prinsip yang telah dibahas pada analisis rangka batang bidang secara umum dapat diterapkan pada rangka batang ruang. Kestabilan merupakan tinjauan utama. Gaya-gaya yang timbul pada batang suatu rangka batang ruang dapat diperoleh dengan meninjau keseimbangan ruang potongan rangka batang ruang tersebut. Jelas bahwa persamaan statika yang digunakan untuk benda tegar tiga dimensi, yaitu :
Apabila diterapkan langsung pada rangka batang ruang yang cukup besar, persamaan-persamaan ini akan melibatkan banyak titik hubung dan batang. bahkan tidak dikehendaki. Apabila kondisi titik hubung aktual sedemikian rupa sehingga ujung-ujung batang tidak bebas berotasi, maka momen lentur lokal dan gaya aksialnya dapat timbul pada batang-batang. Apabila momen lentur itu cukup besar, maka batang tersebut harus didesain agar mampu memikul tegangan kombinasi akibat gaya aksial dan momen lentur. Besar tegangan lentur yang terjadi sebagai akibat dari titik hubung kaku umumnya ?? 20% dari tegangan normal yang terjadi. Pada desain awal, biasanya tegangan lentur sekunder ini diabaikan. Salah satu efek positif dari adanya titik hubung kaku ini adalah untuk memperbesar kekakuan rangka batang secara menyeluruh, sehingga dapat mengurangi defleksi. Merencanakan titik hubung yang kaku biasanya tidak akan mempengaruhi pembentukan akhir dari rangka batang.
4.1.3. Desain Rangka Batang
a. Tujuan
Kriteria yang digunakan untuk merancang juga menjadi sangat bervariasi. Ada beberapa tujuan yang menjadi kriteria dalam desain rangka batang, yaitu :
(1) Efisiensi Struktural
Tujuan efisiensi struktural biasa digunakan dan diwujudkan dalam suatu prosedur desain, yaitu untuk meminimumkan jumlah bahan yang digunakan dalam rangka batang untuk memikul pembebanan pada bentang yang ditentukan. Tinggi rangka batang merupakan variabel penting dalam meminimumkan persyaratan volume material, dan mempengaruhi desain elemennya.
(2) Efisiensi Pelaksanaan (Konstruksi)
Alternatif lain, kriteria desain dapat didasarkan atas tinjauan efisiensi pelaksanaan (konstruksi) sehubungan dengan fabrikasi dan pembuatan rangka batang. Untuk mencapai tujuan ini, hasil yang diperoleh seringkali berupa rangka batang dengan konfigurasi eksternal sederhana, sehingga diperoleh bentuk triangulasi yang sederhana pula. Dengan membuat semua batang identik, maka pembuatan titik hubung menjadi lebih mudah dibandingkan bila batang-batang yang digunakan berbeda.
b. Konfigurasi
Beberapa bentuk konfigurasi eksternal rangka batang yang umum digunakan seperti ditunjukan pada Gambar 4.6. Konfigurasi eksternal selalu berubah-ubah, begitu pula pola internalnya. Konfigurasi-konfigurasi ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, tinjauan struktural maupun konstruksi. Masing-masing konfigurasi mempunyai tujuan yang berbeda. Beberapa hal yang menjadi bahasan penting dalam konfigurasi rangka batang adalah :
(1) Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal memang bukanlah hal yang utama dalam menentukan konfigurasi rangka batang. Namun faktor eksternal juga dapat mempengaruhi bentuk-bentuk yang terjadi.
(2) Bentuk-bentuk Dasar
Ditinjau dari segi struktural maupun konstruksi, bentuk–bentuk dasar yang digunakan dalam rangka batang merupakan respon terhadap pembebanan yang ada. Gaya-gaya internal akan timbul sebagai respon terhadap momen dan gaya geser eksternal. Momen lentur terbesar pada umumnya terjadi di tengah rangka batang yang ditumpu sederhana yang dibebani merata, dan semakin mengecil ke ujung. Gaya geser eksternal terbesar terjadi di kedua ujung, dan semakin mengecil ke tengah.
(3) Rangka Batang Sejajar
Pada rangka batang dengan batang tepi sejajar, momen eksternal ditahan terutama oleh batang-batang tepi atas dan bawah. Gaya geser eksternal akan dipikul oleh batang diagonal karena batangbatang tepi berarah horisontal dan tidak mempunyai kontribusi dalam menahan gaya arah vertikal. Gaya-gaya pada diagonal umumnya bervariasi mengikuti variasi gaya geser dan pada akhirnya menentukan desain batang.
(4) Rangka Batang Funicular
Rangka batang yang dibentuk secara funicular menunjukan bahwa secara konsep, batang nol dapat dihilangkan hingga terbentuk konfigurasi bukan segitiga, namun tanpa mengubah kemampuan struktur dalam memikul beban rencana. Batang-batang tertentu yang tersusun di sepanjang garis bentuk funicular untuk pembebanan yang ada merupakan transfer beban eksternal ke tumpuan. Batangbatang lain adalah batang nol yang terutama berfungsi sebagai bracing. Tinggi relatif pada struktur ini merupakan fungsi beban dan lokasinya.
c. Tinggi Rangka Batang
Penentuan tinggi optimum yang meminimumkan volume total rangka batang umumnya dilakukan dengan proses optimasi. Proses optimasi ini membuktikan bahwa rangka batang yang relatif tinggi terhadap bentangannya merupakan bentuk yang efisien dibandingkan dengan rangka batang yang relatif tidak tinggi. Sudut-sudut yang dibentuk oleh batang diagonal dengan garis horisontal pada umumnya berkisar antara 300 – 600 dimana sudut 450 biasanya merupakan sudut ideal. Berikut ini pedoman sederhana untuk menentukan tinggi rangka batang berdasarkan pengalaman. Pedoman sederhana di bawah ini hanya untuk pedoman awal, bukan digunakan sebagai keputusan akhir dalam desain.
d. Masalah-masalah pada Desain Elemen
Beberapa permasalahan yang umumnya timbul pada desain elemen menyangkut faktor-faktor yang diuraikan berikut ini.
(1) Beban Kritis
Pada rangka batang, setiap batang harus mampu memikul gaya maksimum (kritis) yang mungkin terjadi. Dengan demikian, dapat saja terjadi setiap batang dirancang terhadap kondisi pembebanan yang berbeda-beda.
(2) Desain Elemen, meliputi :
???? Batang Tarik
???? Batang Tekan
Untuk batang tekan, harus diperhitungkan adanya kemungkinan keruntuhan tekuk (buckling) yang dapat terjadi pada batang panjang yang mengalami gaya tekan. Untuk batang tekan panjang, kapasitas pikul-beban berbanding terbalik dengan kuadrat panjang batang. Untuk batang tekan yang relatif pendek, maka tekuk bukan merupakan masalah sehingga luas penampang melintang hanya bergantung langsung pada besar gaya yang terlibat dan teganagan ijin material, dan juga tidak bergantung pada panjang batang tersebut.
(3) Batang Berukuran Konstan dan/atau Tidak Konstan
Bila batang tepi atas dirancang sebagai batang yang menerus dan berpenampang melintang konstan, maka harus dirancang terhadap gaya maksimum yang ada pada seluruh batang tepi atas, sehingga penampang tersebut akan berlebihan dan tidak efisien. Agar efisien, maka penampang konstan yang dipakai dikombinasikan dengan bagian-bagian kecil sebagai tambahan luas penampang yang hanya dipakai pada segmen-segmen yang memerlukan.
(4) Pengaruh Tekuk terhadap Pola
Ketergantungan kapasitas pikul beban suatu batang tekan pada panjangnya serta tujuan desain agar batang tekan tersebut relatif lebih pendek seringkali mempengaruhi pola segitiga yang digunanakan, seperti ditunjukan pada Gambar 4.7 berikut.
(5) Pengaruh Tekuk Lateral pada desain batang dan susunan batang.
Jika rangka berdiri bebas seperti pada Gambar 4.8, maka ada kemungkinan struktur tersebut akan mengalami tekuk lateral pada seluruh bagian struktur. Untuk mencegah kondisi ini maka struktur rangka batang yang berdiri bebas dapat dihindari. Selain itu penambahan balok transversal pada batang tepi atas dan penggunaan rangka batang ruang juga dapat mencegah tekuk transversal (Gambar 4.9).
e. Rangka Batang Bidang dan Rangka Batang Ruang
Rangka batang bidang memerlukan material lebih sedikit daripada rangka batang tiga dimensi untuk fungsi yang sama. Dengan demikian, apabila rangka batang digunakan sebagai elemen yang membentang satu arah, sederetan rangka batang bidang akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan sederetan rangka batang ruang (tiga dimensi). Sebaliknya, konfigurasi tiga dimensi seringkali terbukti lebih efisien dibandingkan beberapa rangka batang yang digunakan untuk membentuk sistem dua arah. Rangka batang tiga dimensi juga terbukti lebih efisien bila dibandingkan beberapa rangka batang yang digunakan sebagai rangka berdiri bebas (tanpa balok transversal yang menjadi penghubung antar rangka batang di tepi atas). Hal ini seperti ditunjukan pada Gambar 4.9.
Sumber :
Ariestadi, Dian, 2008, Teknik Struktur Bangunan Jilid 2 untuk SMK, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 181 – 193.

STRUKTUR KABEL

Struktur Kabel Adalah sebuah sistem struktur yang bekerja berdasarkan prinsip gaya tarik, terdiri atas kabel baja, sendi, batang, dsb yang menyanggah sebuah penutup yang menjamin tertutupnya sebuah bangunan.
Prinsip konstruksi kabel sudah dikenal sejak zaman dahulu pada jembatan gantung, di mana gaya-gaya tarik digunakan tali. Contoh lainnya adalah tenda-tenda yang dipakai para musafir yang menempuh perjalanan jarak jauh lewat padang pasir. Setelah orang mengenal baja, maka baja digunakan sebagai gantungan pada jembatan. Pada taraf permulaan baja itu dapat berkarat. Pada zaman setengah abad sebelum sekarang, ditemukanlah baja dengan tegangan tinggi yang tahan terhadap karat.


Penerapan Struktur Kabel dalam Arsitektur
Struktur kabel merupakan suatu generalisasi terhadap beberapa struktur yang menggunakan elemen tarik berupa kabel sebagai ciri khasnya. Struktur ini bekerja terhadap gaya tarik sehingga lebih mudah berubah bentuk jika terjadi perubahan besar atau arah gaya. Struktur kabel merupakan struktur funicular dimana beban pada struktur diteruskan dalam bentuk gaya tarik searah dengan material konstruksinya, sehingga memungkinkan peniadaan momen.

Sistem Stabilisasi
Beberapa sistem stabilisasi yang dapat digunakan untuk mengantisipasi deformasi pada struktur kabel antara lain :
1. Peningkatan beban mati
Stabilisasi ini dilakukan dengan penerapan material dengan berat yang memadai dan merupakan material yang homogen sehingga diperoleh beban yang terdistribusi merata.
2. Pengaku busur dengan arah berlawanan (inverted arch)
Stabilisasi dengan pengaku bususr atau kabel ini berusaha mencapai bentuk yang kaku dengan menambah jumlah kabel sehingga kemudian menghasilkan suatu jaring-jaring (cable net structure).
3. Penggunaan batang-batang pembentang (spreader)
Stabilisasi ini menggunakan batang-batang tekan sebagai pemisah antara dua kabel sehingga menambah tarikan internal didalam kabel.
4. Penambatan/pengangkuran ke pondasi (ground anchorage)
Sistem ini hanya berlaku bagi kabel karena adanya gaya-gaya taik yang dinetralisir oleh pondasi sehingga menghasilkan stabilisasi.Pada pondasi terjadi tumpuan tarik akibat perlawanan gaya tarik kabel.
5. Metoda prategang searah kabel (masted structure)
Ciri utamanya adalah tiang-tiang dan kabel yang secara keseluruhan membentuk suatu struktur kaku. Kabel ditempatkan pada keadaan tertegang dengan jalan memberikan beban yang dialirkan searah kabel.
Keuntungan dan Kelemahan Struktur Kabel

Keuntungan struktur kabel :
1. Elemen kabel merupakan elemen konstruksi paling ekonomis untuk menutup permukaan yang luas
2. Ringan, meminimalisasi beban sendiri sebuah konstruksi
3. Memiliki daya tahan yang besar terhadap gaya tarik, untuk bentangan ratusan meter mengungguli semua sistem lain
4. Memberikan efisiensi ruang lebih besar
5. Memiliki faktor keamanan terhadap api lebih baik dibandingkan struktur tradisonal yang sering runtuh oleh pembengkokan elemen tekan di bawah temperatur tinggi. Kabel baja lebih dapat menjaga konstruksi dari temperatur tinggi dalam jangka waktu lebih panjang, sehingga mengurangi resiko kehancuran
6. Dari segi teknik, pada saat terjadi penurunan penopang, kabel segera menyesuaikan diri pada kondisi keseimbangan yang baru, tanpa adanya perubahan yang berarti dari tegangan
7. Cocok untuk bangunan bersifat permanen.
Kelemahan struktur kabel
Pembebanan yang berbahaya untuk struktur kabel adalah getaran. Struktur ini dapat bertahan dengan sempuna terhadap gaya tarik dan tidak mempunyai kemantapan yang disebabkan oleh pembengkokan, tetapi struktur dapat bergetar dan dapat mengakibatkan robohnya bangunan

 


STRUKTUR KABEL
Ada jenis-jenis struktur yang telah banyak digunakan oleh perencana gedung, yaitu struktur pelengkung dan struktur kabel. Kedua jenis struktur yang berbeda ini mempunyai karakteristik dasar struktural yang sama, khususnya dalam hal perilaku strukturnya.

Kabel yang mengalami beban eksternal tentu akan mengalami deformasi yang bergantung pada besar dan lokasi beban eksternal. Bentuk yang didapat khusus untuk beban itu ialah bentuk funicular ( sebutan funicular berasal dari bahasa Latin yang berarti “tali”). Hanya gaya tarik yang dapat timbul pada kabel. Dengan membalik bentuk struktur yang diperoleh tadi, kita akan mendapat struktur baru yang benar-benar analog dengan struktur kabel, hanya sekarang gaya yang dialami adalah gaya tekan. Secara teoritis, bentuk yang terakhir ini dapat diperoleh dengan menumpuk elemen-elemen yang dihubungkan secara tidak kaku (rantai tekan) dan struktur yang diperoleh akan stabil. Akan tetapi, sedikit variasi pada beban akan berarti bahwa strukturnya tidak lagi merupakan bentuk funicular sehingga akan timbul momen lentur dan gaya geser akibat beban yang baru ini. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya keruntuhan pada struktur tersebut sebagai akibat dari hubungan antara elemen-elemen yang tidak kaku, tidak dapat memikul momen lentur. Karena bentuk struktur tarik dan tekan yang disebutkan di atas mempunyai hubungan dengan tali tergantung yang dibebani, maka kedua jenis struktur disebut sebagai struktur funicular.

Banyak bangunan yang menggunakan struktur funicular. Sebagai contoh, jembatan gantung yang semula ada di Cina, India, dan Amerika Selatan adalah struktur funicular tarik. Ada struktur jembatan kuno yang menggunakan tali, ada juga yang menggunakan bambu. Di Cina ada jembatan yang menggunakan rantai, yang dibangun sekitar abad pertama SM. Struktur kabel juga banyak digunakan pada gedung, misalnya struktur kabel yang menggunakan tali. Struktur ini dipakai dipakai sebagai atap amfiteater Romawi yang dibangun sekitar tahun 70 SM.

Sekalipun kabel telah lama digunakan, pengertian teoretisnya masih belum lama dikembangkan. Di Eropa, jembatan gantung masih belum lama digunakan meskipun struktur rantai-tergantung telah pernah dibangun di Alpen Swiss pada tahun 1218. Teori mengenai struktur ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1595, yaitu sejak Fausto Veranzio menerbitkan gambar jembatan gantung. Selanjtnya pada tahun 1741 dibangun jembatan rantai di Durham County, Inggris. Jembatan ini mungkin merupakan jembatan gantung pertama di Eropa.

Titik balik penting dalam evolusi jembatan gantung terjadi pada awal abad ke-19 di Amerika, yaitu pada saat James Findley mengembangkan jembatan gantung yang dapat memikul beban lalu lintas. Findley membangun jembatannya untuk pertama kali pada tahun 1810 di Jacobs Creek, Uniontown, Pennsylvania dengan menggunakan rantai besi fleksibel. Inovasi Findley bukanlah kabelnya, melainkan penggunaan dek jembatan yang diperkaku yang pengakunya diperoleh dengan menggunakan rangka batang kayu. Penggunaan dek kaku ini dapat mencegah kabel penumpunya berubah bentuk sehingga bentuk permukaan jalan juga tidak berubah. Dengan inovasi ini dimulailah penggunaan jembatan gantung modern.

Inovasi Findley dilanjutkan oleh Thomas Telford di Inggris dengan mendesain jembatan yang melintasi selat Menai di Wales (1818-1826). Louis Navier, ahli matematika Prancis yang amat terkenal, membahas karya Findley dengan menulis buku mengenai jembatan gantung, Rapport et Memoire sur les Ponts Suspends, yang diterbitkan pada tahun 1823. Navier dalam bukunya sangat menghargai karya Findley dalam hal pengenalan dek jembatan kaku.

Segera setelah inovasi Findley, banyak jembatan gantung terkenal lainnya dibangun, misalnya jembatan Clifton di Inggris (oleh Isombard Brunel) dan jembatan Brooklyn (oleh John Roebling). Banyak pula jembatan modern yang dibangun setelah itu, misalnya yang membentangi Selat Messina dengan bentang tengah sekitar 5000 ft (1525 m) dan jembatan Verazano-Narrows yang bentang tengahnya 4260 ft (1300 m).

Penggunaan kabel pada gedung tidak begitu cepat karena pada saat itu belum ada kebutuhan akan bentang yang sangat besar. Meskipun James Bogardus telah memasukkan proposal kepada Crystal Palace pada New York Exhibition pada tahun 1853, yang mengusulkan atap gedung berbentuk lingkaran dari besi tuang berdiameter 700 ft (213 m) digantung dari rantai yang memancar dan ditanam pada menara pusat, struktur pavilyun pada pameran Nijny-Novgorod yang didesain oleh V. Shookhov pada tahun 1896 dianggap sebagai awal mulanya aplikasi kabel pada gedung modern. Struktur-struktur yang dibangun berikutnya adalahpavilyun lokomotif pada Chicago World’s Fair pada tahun 1933 dan Livestock Judging Pavillion yang dibangun di Raleigh, North Carolina pada sekitar tahun 1950. sejak itu sangat banyak dibangun gedung yang menggunakan struktur kabel.

 

STRUKTUR MEMBRAN





STRUKTUR MEMBRAN
Membran adalah suatu lembaran bahan tipis sekali dan hanya dapat menahan gaya tarik murni. Soap film adalah membran yang paling tipis, kira-kira 0,25 mm yang dapat membentang lebar. Suatu struktur membran dapat bertahan daalm dua dimensi, tidak dapat menerima tekan dan geser karena tipisnya terhadap bentangan yang besar.

Beban-beban yang dipikul mengakibatkan lendutan, karena membran adalah bidang dua dimensi dan karena merupakan jala-jala yang saling membantu, maka bertambahlah kapasitasnya.

Ada dua karakter dasar dari kemampuan membran. Tegangan membran terdiri atas tarik dan geser, yang selalu ada dalam permukaan bidang membran dan tidak tegak lurus di atas bidang itu. Aksi membran pada dasarnya tergantung dari karakteristik bentuk geometrinya, yaitu dari lengkungan dan miringnya bidang membran.
Walaupun membran tidak begitu stabil, dapat dicarikan jalan untuk dimanfaatkan sebagai struktur. Keuntungan struktur ini ialah ringan, ekonomis dan dapat membentang luas.

Aksi struktur membran dapat ditingkatkan daya tariknya dengan tarikan sebelum pembebanan. Sebagai contoh payung dari kain.

Dengan mengadakan pratarik pada kain yang kemudian dikuncinya dengan alat apitan, rusuk-rusuk baja membuka dan mendukungnya dengan dibantu oleh batang-batang tekan yang duduk pada tangkai payung. Kain tertarik dan memberi bentuk lengkungan yang cocok untuk menahan beban. Membran kain payung dapat menerima tekanan dari luar dan dalam.
Skelet dari rusuk-rusuk baja menerima tarikan dari kain dan memperkuat seluruh permukaan bidang terhadap tekanan angin.

Struktur Pneumatik
Membran dapat diberi pra tegang dengan tekanan dari sebelah dalam apabila menutup suatu volume atau sejumlah volume yang terpecah-pecah. Dengan cara ini tersusunlah struktur pneumatik. Embran mudah menjadi bengkok dan dapat mudah ditekan oleh gas atau udara. Dalam tyeori, membran tanpa pra tegang dapat membentangi ruangan yang besar sekali dengan tekanan udara yang mengimbangi beratnya sendiri dari membran yang mengambang. Dalam praktek, membran perlu diberi prategang supaya menjadi stabil terhadap pembebanan yang tak simetris dan yang dinamis.

Stabilitas bentuk konstruksi ini dikendalikan oleh 2 faktor. Kesatu : tekanan pada tiap titik dari membran yang menyebabkan tegangan tarik harus cukup untuk menahan semua kondisi pembebanan dan untuk menjaga agar tidak terdapat tegangan tekan pada membaran. Kedua : tegangan membran pada setiap titik dengan kondisi pembebanan harus lebih kecil daripada tegangan yang diperkenankan pada bahan.

Bentu struktur pneumatik adalah karakteristik merupakan lengkungan dua arah dari lengkungan sinplastik. Bentuk dengan lengkungan searah dan lingkungan anti klasik tidak mungkin digunakan .

Lengkungan kubah adalah bentu yang cocok untuk struktur membran pneumatik, karena dapat menutupu ruangan dan dapat ditekan oleh udara yang besarnya atau kecepatannya sama kesemua arah.
Tegangan membran dalam bola atau dalam kubah tergantung pada tekanan udara dari dalam dan garis radius, yakni o = ½ . p .r (p = tekanan udara, r = radius kubah ).

  

Struktur Cangkang


PENDAHULUAN

Cangkang adalah bentuk struktural berdimensi tiga yang kaku dan tipis serta mempunyai permukaan lengkung. Permukaan cangkang dapat mempunyai bentuk sembarang. Bentuk yang umum adalah permukaan yang berasal dari
  1. Kurva yang diputar terhadap 1 sumbu (misalnya, permukaan bola, elips, kerucut, dan parabola),
  2. Permukaan translasional yang dibentuk dengan menggeserkan kurva bidang di atas kurva bidang lainnya, (misalnya permukaan bola eliptik dan silindris)
  3. Permukaan yang dibentuk dengan menggeserkan 2 ujung segmen garis pada 2 kurva bidang (misalnya permukaan bentuk hiperbolik parabolid dan konoid)
  4. Dan berbagai bentuk yang merupakan kombinasi dari yang sudah disebutkan di atas.
Bentuk cangkang tidak harus selalu memenuhi persamaan matematis sederhana. Segala bentuk cangkang mungkin saja digunakan untuk suatu struktur. Bagaimanapun, tinjauan konstruksional mungkin akan membatasi hal ini.
Beban-beban yang bekerja pada cangkang diteruskan ke tanah dengan menimbulkan tegangan geser, tarik, dan tekan pada arah dalam bidang (in-plane) permukaan tersebut.Tipisnya permukaan cangkang menyebabkan tidak adanya tahan Momen yang berarti Struktur cangkang tipis khusunya cocok digunakan untuk memikul beban merata pada atap gedung. Struktur ini tidak cocok untuk memikul beban terpusat. Struktur cangkang selalu memerlukan penggunaan cincin tarik pada tumpuannya.
Sebagai akibat cara elemen struktur ini memikul beban dalam bidang (terutama dengan cara tarik dan tekan), struktur cangkang dapat sangat tipis dan mempunyai bentang yang relatif besar. Perbandingan bentang tebal sebesar 400 – 500 saja digunakan (misalnya tebal 3 in. (8 cm) mungkin saja digunakan untuk kubah yang berbentang 100 sampai 125 ft (30 sampai 38 m). Cangkang setipis ini menggunakan material yang relatif baru dikembangkan, misalnya beton bertulang yang didesain khusus untuk membuat permukaan cangkang. Bentuk-bentuk 3 dimensional lain, misalnya kubah pasangan (bata), mempunyai ketebalan lebih besar, dan tidak dapat dikelompokkan struktur yang hanya memikul tegangan dalam bidang karena, pada struktur tebal seperti ini, momen lentur sudah mulai dominan.
Bentuk 3 dimensional juga dibuat dari batang-batang kaku dan pendek. Struktur seperti ini pada hakikatnya adalah struktur cangkang karena perilaku strukturalnya dapat dikatakan sama dengan permukaan cangkang menerus, hanya saja tegangannya tidak lagi menerus seperti pada permukaan cangkang, tetapi terpusat pada setiap batang. Struktur demikian baru pertama kali digunakan pada awal abad XIX. Kubah Schewedler, yang terdiri atas jaring-jaring batang bersendi tak teratur, misalnya, diperkenalkan pertama kali oleh Schwedler di Berlin pada tahun 1863, pada saat ia mendesain kubah dengan bentang 132 ft (48 m). Struktur baru lainnya adalah menggunakan batang-batang yang diletakkan pada kurva yang dibentuk oleh garis membujur dan melintang dari suatu permukaan putar. Banyak kubah besar di dunia ini yang menggunakan cara demikian.
Untuk menghindari kesulitan konstruksi yang ditimbulkan dari penggunaan batang-batang yang berbeda dalam membentuk permukaan cangkang, kita dapat menggunakan cara-cara lain yang menggunakan batang-batang yang panjangnya sama. Salah satu diantaranya adalah kubah geodesik yang diperkenalkan oleh Buckminster Fuller. Karena permukaan bola tidak dapat dibuat, maka banyaknya pola berulang identik yang akan dipakai untuk membuat bagian dari permukaan bola itu akan terbatas. Icosohedron bola, misalnya, terdiri atas 20 segitiga yang dibentuk dengan menghubungkan lingkaran-lingkaran besar yang mengelilingi bola. Tinjauan geometris demikian inilah yang digunakan oleh Fuller. Kita harus berhati-hati dalam menggunakan cara seperti ini karena sifat strukturnya dapat membingungkan. Keuntungan struktural yang didapat tidak selalu lebih besar daripada bentuk kubah lainnya.
Bentuk-bentuk lain yang bukan merupakan permukaan putaran juga dapat dibuat dengan menggunakan elemen-elemen batang. Beberapa di antaranya adalah atap barrel ber-rib dan atap Lamella yang terbuat dari grid miring seperti pelengkung yang membentuk elemen-elemen diskrit. Bentuk yang disebut terakhir ini yang terbuat dari material kayu sangat banyak dijumpai, tetapi baja maupun beton bertulang juga dapat digunakan. Dengan sistem Lamella, kita dapat mempunyai bentangan yang sangat besar.
Daftar pustaka :
Structure ; Daniel Schodek

 

 


 

01 Februari, 2011

Teori | Sejarah Arsitektur
oenggun
[info]oenggun
Teori | Sejarah Arsitektur

Perjalanan Kolong Jembatan

undi gunawan, maret 2004

abstrak
Tulisan singkat dalam ranah filsafat arsitektur ini, secara hipotetik-spekulatif, berusaha menelusuri konsekuensi dari beragam (kesadaran) pola pikir kesejarahan, yang pada akhirnya berimbas pada pembentukan dan pemahaman akan teori arsitektur. Kesadaran akan pola pikir kesejarahan membawa konsekuensi-konsekuensi pembentukan teori(-teori) arsitektur.

Kata kunci: kesadaran, kesejarahan, subyek, teori arsitektur

-

“Present not as a total presence, but as a trace.”
Derrida ((1967) 1978:119)

Pemahaman kita akan kondisi sekarang (kekinian) merupakan stimulasi dari kesadaran kita akan masa-lalu (kesejarahan). Pemahaman ini memberi dua macam konsekuensi.

Konsekuensi pertama, yaitu bahwa setiap pencapaian teori arsitektural yang ada sekarang merupakan peninggalan dari pencapaian teoritis masa-lalu. Tidak ada pencapaian kekinian yang lepas dari masa-alu. Terciptanya pemikiran dikotomis, berpusat pada asumsi akan sesuatu entitas pemahaman ideal, yang selalu memisahkan (dan menyatukan secara hirarkis) masa-lalu dan masa-kini. Aktivitas pemisahan dilakukan oleh pemahaman kesejarahan yang bersifat sekedar kronologis dan kaleidoscope. Sudut pandang ini kemudian berkembang menjadi sebuah pemahaman yang bersifat total (over-governing), di mana masa-lalu dan masa-kini dapat dipahami secara universal. Karena merupakan pengembangan dari pemahaman kesejarahan yang bersifat kronologis dan kaleidoscope, dialektika (Hegelian) ini merupakan puncak dari pemahaman secara dikotomis terhadap sejarah.

Konsekuensi kedua, yaitu memandang masa-lalu dan masa-kini sebagai suatu rangkaian relasional. Masa-lalu dan masa-kini tidak dipandang secara dikotomis sebagai oposisi yang saling dihadap-hadapkan, melainkan dipandang sebagai batas-batas terolah bagi sebuah pemahaman teoritis (secara etimologis). Hal inilah yang diungkapkan oleh Paul-Alan Johnson sebagai relasi figure-ground antara teori dan sejarah (Johnson, 1994:20-23). Konsekuensi kedua ini memberi kemungkinan-kemungkinan penalaran sejarah yang berbeda dibandingkan dengan konsekuensi pertama.

- - -

Pengertian – pengertian yang disampaikan dalam dua paragraf di atas adalah sekilas bagaimana penalaran subyek terhadap kondisi kesejarahannya. Secara lebih khusus, dalam lingkup teori arsitektur, aktivitas teori dan sejarah arsitektur tidaklah secara terbatas pada pemahaman kekinian dan masa lalu belaka. Teori arsitektur, dari sekian banyak rationale yang dimilikinya, ada disebabkan oleh dorongan primordial untuk mewujudkan perhatian terhadap masa-depan.

Konsekuensi pertama di atas dilatarbelakangi oleh keyakinan terhadap kemampuan subyek untuk memahami sejarah secara rasional. Dengan mempelajari sepenggal masa-lalu, dan melakukan analisa kesejarahan terhadap kondisi masa-kini, akan memperoleh gambaran terhadap masa-depan. Dalam bentuknya yang paling absolut, dalam pemikiran Hegel, sejarah merupakan perjalanan dari ruh (spirit) dalam mencapai kebebasannya. Abstraksi yang dimiliki oleh ruh, merupakan payung universal terhadap yang real (material). Keyakinan ini termanifestasi dalam teori arsitektur sebagai gejala kemunculan teori-teori yang dipandang sebagai teori normatif. Teori normatif melibatkan seperangkat aturan-aturan, resep, prinsip-prinsip, bagi tindakan (desain) melalui norma-norma yang disetujui bersama berupa pernyataan-pernyataan (manifesto) dan 'filsafat' yang muncul dari seperangkat ideologi tertentu. (lihat Johnson 1994:27 dalam menjabarkan teori desain dari Peter Rowe). Dalan kajian ilmu pengetahuan dan ilmu sosial, kita mengenal kritik Karl Popper ((1950) 2002:11) yang mendasar terhadap keyakinan historisisme semacam ini. Sejarah, history, telah menjadi ideologi, historis-isme. Sejarah telah berhenti menjadi kajian sejarah yang hidup dan kritis. Kajian sejarah dalam historisisme merupakan kajian sejarah yang anti-sejarah. Kritik umum terhadap konsekuensi pertama kesadaran ini adalah bahwa keyakinan ini membawa bibit-bibit absolutisme, patokan norma yang pada akhirnya bersifat sentralistik dan hilangnya peran subyek secara otentik yang dikarenakan oleh determinisme arah sejarah.

Jika sejarah tidaklah dapat bersifat absolut dan deterministik, apakah itu berarti bahwa sejarah bersifat anarkis? Anarkis dalam artian sebagai rangkaian subyek abstrak individual yang terbang bebas ketika masa-lalu terpisah dari masa kini, dan masa-kini terpisah dari masa-depan? Terbang bebas tanpa melalui proses kesadaran tertentu? Subyek nihilistik yang secara absolut 'bebas' dari norma-norma?

Pemahaman kesejarahan merupakan pemahaman yang dilakukan subyek terhadap dirinya dan dunianya melalui proses interpretatif terus-menerus terhadap kondisi temporalitas (masa-lalu). Proses interpretasi ini membatasi dan sekaligus menunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi subyek dalam membentuk pemahamannya. Subyek yang tidak otentik cenderung akan menerima tradisi tanpa secara kritis dan hanya akan terbatas memenuhi kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh tradisi tersebut. Subyek yang otentik akan mengkritisi tradisi, dan menemukan atau mencoba kemungkinan-kemungkinan yang melampaui tradisi tersebut.

Bagaimana pemahaman kesejarahan dapat bersifat kritis? Pemahaman kesejarahan dapat bersifat kritis dengan menyadari karakter relasional dari penalaran sejarah. Relasional berarti referential. Mari kita cermati kesimpulan Paul-Alan Johnson (1994:23):

“Architectural theory as design-talk cannot be studied without reference to the broader talk of architecture or rhetoric generally, the marks of individuality without reference to the conventions of society, the 'marked' quality without reference to those qualities left unmarked (...), or the architectural event without reference to the physical, cultural, and political context that develop it.”

Jika teori arsitektur (dalam kaitannya dengan kesejarahan) merupakan seperangkat referensi-referensi belaka, bagaimana pemahaman kesejarahan otentik dapat terbentuk?

- - -

Memandang sejarah sebagai suatu rangkaian relasional bukanlah dipahami secara reduktif sekedar hubungan antara A dengan A' (A/A' = event-fakta-konsep-ide-menifesto-artefak dari proses menyejarah). Selesai.Titik. Sejarah sebagai rangkaian relasional juga juga memiliki seperangkat 'kemungkinan-kemungkinan', jika tidak kemudian dapat dibakukan sebagai 'prinsip-prinsip'. Rangkaian relasional kesejarahan dapat difinisikan sebagai berikut:

(1)A yang merupakan referensi dengan A' adalah ad infinitum, secara tidak terbatas saling melingkar menjadi referensi antara satu dengan yang lain. Absolut, tidak ada progres, adalah sebuah tradisi yang 'mati', ekstrem dan tidak kritis. Secara ekstrem, merupakan 'copy-paste'. A tidak pernah keluar dari lingkup primordialnya.
(2)A yang keluar dari kondisi absolut, namun tidak pernah berkesempatan, atau bahkan tidak memiliki intensi untuk kembali. Manifesto-ideologis-retorik yang diikuti banyak subyek di luar lingkup-asal/embriotiknya, namun lingkup primordialnya selalu bergerak dinamis. A selalu bergerak tanpa pernah sama lagi dengan lingkup primordialnya.
(3)A bergerak keluar dari lingup primordialnya dan secara aktif mengubah pusat-pusat pemahaman baik pada lingkup tujuannya dan pada lingkup primordialnya.
(4)Lingkup primordial A tumbuh meluas dan bersingungan dengan lingkup tujuan A'. kedua lingkup tersebut memiliki seperangkat kemiripan interpretasi akan nilai, tujuan, atau praxis.
(5)Lingkup primordial A mengambil alih pemaknaan dan norma/nilai lingkup tujuan A'. A merepresentasikan dirinya sebagai supremasi kesejarahan. A merupakan despot sejarah.
(6)Lingkup primordial A tumbuh meluas dan bersinggungan dengan lingkup tujuan A', namun A' hanya menerima lapisan permukaan dari A. A' tidak pernah benar-benar mengadopsi A. Secara substansial A' tetap A', namun dengan pewajahan A.
(7)A dan A' tumbuh secara dinamis secara bersamaan, namun saling menegasikan. Apa yang ada di A hanya akan dijumpai negatifnya di A', demikian pula sebaliknya.
(8)A hanya merupakan tipuan-halusinasi-imajinasi dari A'. Jika seolah A merupakan sebuah referensi yang sangat berpengaruh bagi A', namun A sebenarnya hanya merupakan rekaan sadar-taksadar dari A' dalam dinamika dirinya sendiri.

Kemungkinan-kemungkinan di atas hendaknya masih diterjemahkan secara lebih sederhana dan diuji melalui sperangkat analisa. Kemungkinan-kemungkinan di atas bukanlah kerangka teoritis (theoritical framework) yang sudah jadi, namun dirinya selalu menegasikan kondisi absolut tanpa menjadi anarkis. Kemungkinan-kemungkinan di atas tidak hanya berorientasi pada obyek, kemungkinan-kemungkinan di atas juga tidak berorientasi pada subyek. Kemungkinan-kemungkinan di atas tetap mengakui otonomi sistem-sistem kesejarahan yang telah ada sebelumnya. Dalam sudut pandang relasional, yang partikular dan yang universal bukanlah merupakan oposisi dikotomis.

Jika aktivitas teori merupakan konstruksi dan rekonstruksi seperangkat penjelasan akan fakta, kemungkinan-kemungkinan di atas menyajikan pluralitas dari aktivitas teori. Dengan menekankan pada intertekstualitas representasi dan referensi dari narasi sejarah, rangkaian relasional di atas memungkinan proses demistifikasi dari aktivitas sejarah dan teori. Proses demistivikasi ini diperlukan, karena aktivitas sejarah dan teori secara 'normal' merupakan aktivitas yang mencari seperangkat pembenaran dan otoritas terhadap (fakta) masa-lalu dan menjadi aktivitas yang tidak pernah terlepas dari relasi kekuasaan. Kekuasaan yang dipahami sebagai lingkup potensialitas dari kapasitas penciptaan aktivitas merancang.

Jika Da-sein dalam pemahaman Heidegger merupakan sebentuk 'subyek otentik', aktivitas sejarah dan teori merupakan potensialitas untuk menuju ke arah itu. Ada sebaiknya tulisan ini diakhiri dengan mencermati:

“The “before” and the “ahead of” indicate the future that first make possible in general the fact that Da-sein can be in such a way that it is concerned about its possibility-of-being. The self-project grounded in the “for the sake of itself” in the future is an essential quality of existentiality. Its primary meaning is the future.”
-Heidegger ((1953:327) 1996:301)

dan ketika subyek otentik mampu 'melampaui sejarah' tanpa 'melupakan sejarah';

“Unlike history, becoming cannot be conceptualized in terms of past and future. Becoming-revolutionary remains indefferent to questions of a future and a past of the revolution: it passes between the two.”
-Deleuze&Guattari ((1980) 1988:292)

- - -
Kegiatan berarsitektur tidaklah terlepas dari sejarah dan teori. Jika konsekeuensi pertama dari aktivias sejarah digambarkan sebagai sebuah jembatan yang menghubungkan ranah masa lalu dan masa kini, konsekuensi kedua menggambarkan betapa banyak jembatan yang harus kita lalui, maka tulisan ini merupakan sekelumit penyelidikan awal akan aktivitas-aktivitas kesadaran pada kolong jembatan-jembatan tersebut. Tulisan ini merupakan awal dari penyelidikan lanjut sejarah lebih tangible terhadap teori dan sejarah arsitektur.
- - -

Referensi:
Deleuze, Gilles & Guattari, Felix, (1980) 1988, A Thousand Plateaus; Capitalism and Schizophrenia, Athlone Press Ltd, London (diterjemahkan oleh Brian Massumi)

Derrida, Jacques, (1967) 1978, Writing and Difference, Routledge, London (diterjemahkan oleh Alan Bass)

Heidegger, Martin, (1953) 1996, Being and Time, State University of New York Press, New York

Johnson, Paul-Alan, 1994, The Theory of Architecture: Concepts, Themes and Practice, Van Nostrand Reinhold, New York

Stanford, Michael, 1988, An Introduction to the Philosophy of History, Blackwell Publishers Inc., London