Pages

TV ONLINE

CARA PASANG TV

12 Februari, 2011

konstruksi

Tentang Jasa Konstruksi



Undang – Undang Republik Indonesia
Nomor 18 tahun 1999


I. Penjelasan Singkat Undang – undang Nomor 18 Tahun 1999
Undang–undang nomor 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi membahas tentang deskripsi sebuah proyek jasa konstruksi pihak–pihak yang terlibat di dalamnya, tugas dan tanggung jawab mereka beserta setiap peraturan–peraturan yang berlaku di dalamnya. Dalam Undang–undang ini disebutkan bahwa jasa konstruksi merupakan layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi.
Seperti di sebutkan di atas, jenis usaha konstruksi mencakup usaha perencanaan konstruksi, pelaksanaan konstruksi, dan pengawasan konstruksi, dalam hal ini ketiga jenis usaha tersebut melibatkan banyak pihak sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati. Usaha-usaha jasa konstruksi dapat berbentuk perseorangan atau badan usaha. Pekerjaan jasa konstruksi mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal dan elektrikal, tata lingkungan, masing–masing beserta kelengkapannya.
Dalam usaha jasa konstruksi, terdapat persyaratan–persyaratan usaha tertentu yang sehubungan dengan keahlian dan ketrampilan dalam bidang konstruksi. Bahwa badan dan orang-perseorangan maupun tenaga kerja harus memiliki sertifikat persyaratan tersebut serta harus bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya dengan dilandasi prinsip-prinsip keahlian sesuai kaidah keilmuan, kepatutan, dan kejujuran intelektual. Usaha jasa konstruksi dapat dikembangkan untuk mewujudkan struktur usaha yang kokoh dan efisien melalui kemitraan yang sinergis antara usaha yang besar, menengah dan kecil serta usaha yang bersifat umum, spesialis dan ketrampilan tertentu.
Usaha jasa konstruksi terdiri dari pengguna jasa dan penyedia jasa, pengguna jasa dapat menunjuk wakil untuk melaksanakan dan membayarkan pekerjaan konstruksi yang didukung dengan sebuah dokumen pembuktian, sedangkan penyedia jasa yang terdiri dari perencana, pelaksana dan pengawas konstruksi yang dilakukan secara terpisah dimana layanan jasa tersebut dilakukan secara terintegrasi dengan melihat besar pekerjaan, biaya, peralatan dan resikonya. Pengikatan hubungan kerja jasa konstruksi harus dengan cara pelelangan umum atau terbatas dan dengan cara pemilihan/penunjukan langsung. Sebagai pengikat, penyedia jasa harus membuat dokumen yang bersifat mengikat serta kontrak kerja konstruksi. Apabila terjadi pelanggaran atau pembatalan atau pengunduran diri maka pihak yang melakukan hal tersebut wajib dikenakan ganti rugi atau bisa dituntut secara hukum.
Pengaturan hubungan kerja yang harus dituangkan dalam kontrak kerja konstruksi yang meliputi para pihak, rumusan pekerjaan, masa pertanggungan/pemeliharaan, tenaga ahli, hak dan kewajiban, cara pembayaran, cidera janji, penyelesaian perselisihan, pemutusan kontrak kerja, kegagalan bangunan, perlindungan pekerja, dan aspek lingkungan. Khusus mengenai kontrak kerja perencana harus memuat ketentuan tentang hak atas kekayaan intelektual.
Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Dalam penyelenggaraan konstruksi, penyedia jasa dapat menggunakan subpenyedia jasa yang berkeahlian khusus dan wajib memenuhi dan dipenuhi hak kawajiban masing-masing seperti yang tercantum dalam kontrak kerja konstruksi.
Kegagalan bangunan dinilai oleh penilai ahli, pengguna jasa dan penyedia jasa wajib mempertanggungjawabkannya terhitung sejak penyerang akhir pekerjaan.
Masyarakat mempunyai hak untuk melakukan pengawasan dan memperoleh ganti rugi yang layak atas kerugian akibat penyelengaraan pekerjaan konstruksi, serta berkewajiban untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam pekerjaan konstruksi.
Masyarakat jasa konstruksi (Forum Jasa Konstruksi ) terdiri dari unsur-unsur forum yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan aspirasi serta mengembangkan peran masyarakat dan merumuskan pengaturan, pemberdayaan dan pengawasan dalam mengembangkan jasa konstruksi nasional. Sedangkan pelaksanaan pengembangannya dilakukan oleh lembaga yang independen dan mandiri.
Pemerintah berperan dalam melakukan pembinaan jasa konstruksi dalam bentuk pengaturan (penerbitan UU dan standard teknis), pemberdayaan (hak, kewajiban, peran usaha jasa konstruksi dan masyarakat) dan pengawasan (jaminan ketertiban pekerjaan).
Penyelesaian sengketa jasa konstruksi dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa.
Masyarakat yang dirugikan akibat pekerjaan tersebut berhak menggugat ke pengadilan secara perorangan, kelompok orang, dan perwakilan. Dalam bentuk tuntutan tindakan, biaya dan tuntutan lain yang sesuai dengan UU kepada penyelenggara jasa.


Sebuah GAZEBO .. BAGAIMANA MAJELIS?




 
Gazebo adalah struktur paviliun, sering segi delapan, umumnya ditemukan di taman, kebun, dan area umum yang luas. Gazebo yang berdiri bebas, atau menempel pada dinding kebun, atap, dan buka di semua sisi, mereka memberikan keteduhan, tempat tinggal dasar, fitur hias dalam lansekap, dan tempat untuk beristirahat. Beberapa gazebo di taman publik yang cukup besar untuk melayani sebagai bandstands, atau penampungan air hujan.

Melalui sejarah, paviliun taman telah dibangun dengan menggunakan hampir semua bahan konstruksi. Di Inggris kontemporer dan Amerika Utara, bagaimanapun, gazebo biasanya dibangun dari kayu dan ditutupi dengan bahan atap standar, seperti herpes zoster. Kit gazebo Prefabricated diproduksi di Pennsylvania oleh Amish dan Mennonit memiliki reputasi tinggi untuk kualitas pengerjaan.

Gazebo, terutama yang sementara, bisa juga struktur tenda-gaya tiang ditutupi oleh kain dikencangkan (biasanya nilon).

Gazebo kadang-kadang dilengkapi dengan sisi layar untuk menangkal serangga terbang. Penambahan ini baru-baru ini mendapatkan popularitas karena keprihatinan tentang nyamuk membawa virus West Nile.
http://en.wikipedia.org/wiki/Gazebo



RAMBU-RAMBU PEKERJAAN KONSTRUKSI

Buat pekerja konstruksi dan orang-orang disekitarnya, waspadalah dengan rambu-rambu berikut ini....










METODE PEKERJAAN JALAN



METODE PEKERJAAN JALAN.......
A. PEKERJAAN PERSIAPAN

Uraian :
Pemasangan patok – patok badan jalan, bahu jalan, pembersihan lokasi, mobilisasi peralatan yang diperlukan, pemeliharaan terhadap arus lalu lintas, Pembuatan Brak Kerja.Dikerjakan terlebih dahulu.

B. PEKERJAAN JALAN

1. Uraian
Pekerjaan ini meliputi Leveling Hamparan Batu 5/7,Konstruksi LPB (telford),Lapis penetrasi.

2. Agregat
 Agregat Kasar
Untuk Agregat kasar ini terdiri dari batu / kerikil pecah ataupun satu campuran batu pecah dengan kerikil alami bersih yang sesuai.
 Agregat Halus
Terdiri dari pasir alami dan atau batu yang disaring dalam kombinasi yang cocok, bersih bebas dari kotoran, dan benda lain yang harus dibuang.
 Filler (Bahan halus pengisi)
Terdiri dari debu batu sabak / semen dan harus bebas dari benda lain yang harus dibuang.

3. Bahan Aspal
 Bahan aspal harus aspal semen gradasi kental
 Bahan adhesif (pengikat) dan anti pengelupasan



C. PELAKSANAAN PEKERJAAN

Jenis peralatan berikut ini akan dipilih untuk penghamparan, pemadatan dan penyelesaian.
 Alat pengangkut
Sejumlah truk angkutan disediakan untuk mengangkut campuran aspal yang sesuai dengan program pekerjaan yang telah disetujui yang dilengkapi dasar (bak) logam rata ketat, bersihkan dan sebelumnya dilapisi minyak solar.

 Peralatan untuk penghamparan dan penyelesaian
Peralatan untuk penghamparan dan penyelesaian harus satu paver (perata) bertenaga mesin sendiri yang bekerja sampai garis, kemiringan dari penampang melintang yang diperlukan dan memenuhi persyaratan terhadap volume dan penampilan kualitas.
 Peralatan Pemadatan.
Untuk Pemadatan lapis Levelling amparan batu 5/7,Konstruksi LPB (telford),
  Lapis Penetrasi, diperlukan peralatan berikut:
- Dua buah mesin gilas roda baja (tandem 6 – 10 ton total berat)
- Sebuah mesin gilas ban bertekanan 8,5 kg / cm2 dan ballast dari 1500 kg – 2500 kg muatan per roda.

1. Penyiapan Lapangan
a. Perkerasan lapangan dibersihkan dari bahan – bahan lepas dan lunak, serta dari setiap kerusakan.
b. Sebelum memasang permukaan lama harus kering dan dibersihkan.

2. Penghamparan
Penghamparan dengan mesin
a. Sebelum pengerasan dimulai, sceed spaver dipanaskan dan campuran aspal dimasukkan / dituang kedalam paver.
b. Selama pengoperasian pever, campuran aspal dilempar dan diratakan sampai ketinggian dan bentuk penampang melintang, ditentukan diatas seluruh lebar perkerasan atau selebar yang praktis.
c. Paver beroperasi pada satu kecepatan yang tidak menimbulkan retak, cabik – cabik atau sesuatu ketidakteraturan lainnya pada permukaan.
d. Jika suatu segredasi, penyobekan atau pencukilan permukaan terjadi, paver dihentikan dan tidak boleh berjalan kembali sampai penyebabnya ditemukan dan diperbaiki.
e. Campuran dijaga supaya tidak menggumpal dan mendingin pada sisi hopper atau dimana saja pada paver.
f. Bila jalan harus diperkeras separuh lebar pada suatu waktu, pengerasan separuh lebar pertama tidak boleh > 1 km di depan pengerasan separuh lebar jalan yang kedua.

3. Pemadatan
a. Prosedur Pemadatan
 Tahap awal penggilasan dan penggilasan akhir. Dikerjakan dengan mesin gilas roda baja. Penggilasan kedua atau penggilasan antara dilakukan dengan mesin gilas ban pneumatic.
 Kecepatan mesin gilas tidak boleh melebihi 4 km / jam untuk mesin gilas roda baja, dan 6 km / jam untuk gilas ban pneumatic.
 Penggilasan kedua atau penggilasan antara mengikuti sedekat mungkin di belakang penggilasan pemadatan awal. Penggilasan akhir dikerjakan jika bahan masih dalam kondisi cukup untuk membuang semua tanda bekas injakan roda mesin gilas. Untuk mencegah menempelnya campuran pada mesin gilas, roda – roda tersebut harus dijaga selalu bersih.

4. Penyelesaian
a. Alat berat atau mesin gilas tidak diizinkan berdiri diatas permukaan yang baru selesai sampai permukaan tersebut mendingin secara menyeluruh dan memadat.
b. Permukaan lapis Aspal Beton Pondasi Atas sesudah pemadatan harus halus dan rata sampai punggung jalan dan kemiringan yang ditetakan dalam toleransi yang ditentukan.


5. Penyelesaian Sambungan
Tidak boleh ada campuran yang dipasang menempel pada lapisan yang sudah digilas sebelumnya, kecuali pinggirannya telah dipotong sampai satu permukaan tegak.





SENI KONSTRUKSI



Artikulasi Hubungan struktural
Dalam seni konstruksi , artikulasi hubungan struktural berkaitan dengan 4 hal, yaitu:
a. Artikulasi proses pembuatan
 Artikulasi proses pembuatan erat kaitannya dengan memahami karakteristik bahan sebelum digunakan sebagai elemen struktural, baik sebagai elemen struktur kaku atau fleksibel. Sebagai misal mengambil karakteristik beton atau baja. Beton dan baja mempunyai 2 sifat yang pada awalnya cair namun menjadi padat. Karakter cair dan padat ini dirasakan lewat pengerjaan atau proses pembuatan elemen struktur yaitu melalui proses cetak. Proses cetak ini mampu memunculkan artikulasi proses cair-padat jika dirasakan adanya guratan, tonjolan, alur-alur cetakan yang mencitrakan sesuatu hal.
b. Artikulasi bakat bahan
 Artikulasi bakat bahan erat kaitannya dengan pendekatan bahasa metaphora, bahasa puitis yang menjelaskan pengolahan tekstur dari sifat atau kepribadian bahan. Dalam pengolahan tekstur itu kita dibawa untuk merasakan adanya karakter dari bahan itu seolah ada wajah, ada sifat kepribadian yang dinampakkan, misal:
• Kayu rapih penuh aturan
• Batu yang kekar bersemangat
• Kaca yang lembut halus atau irama-irama kebebasan pecahan ubin namun padu terorganisir
c. Artikulasi ekspresi beban sambungan
 Artikulasi ekspresi beban sambungan adalah sebuah bahasa gerak hubungan elemen struktur apa yang ingin diungkapkan. Misal dalam sambungan tersebut sebuah batang terkesan meregang tarik atau terdesak terdorong. Dengan memahami prinsip dasar mekanika kita bukan hanya berhenti pada tujuan kestabilan sambungan tetapi mencoba memberikan makna atau menyampaikan makna tertentu kepada “pembaca”. 



d. Artikulasi elemen
 Artikulasi elemen berhubungan dengan pemahaman kejujuran dalam berarsitektur. Bahwa elemen-elemen seperti kolom, balok, dinding, lantai, pondasi dan atap merupakan kesatuan utuh dalam menegakkan bangunan. Kreatifitas dalam memadukan elemen-elemen arsitektural tersebut adalah pilihan dalam memunculkan artikulasi elemen tertentu. Misal pada bagian kolom dan dinding perlu dipisahkan jelas mana struktur dan elemen arsitektural, diekspresikan sebagai setara bersanding berdampingan saling menghormati, atau bahwa ada pilihan untuk memberikan makna ganda pada elemen tersebut sehingga pembeda antara atap dengan dinding menjadi fungsi yang sama sekaligus.





Structural Expression




Structural Expression

Expression dalam bahasa Indonesia berarti ekspresi yaitu pengungkapan atau proses menyatakan (yaitu memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan dan sebagainya).
Structural sama pengertiannya dengan struktur yaitu :
• Kerangka bangunan, cara sesuatu disusun.
• Alat untuk mewujudkan gaya-gaya ekstern menjadi mekanisme pemikul beban intern untuk menopang dan memperkuat konsep structural.
• Kerangka bangunan keseluruhan yang memungkinkan bangunan berdiri.

Jadi pengertian structural expression atau ekspresi struktur adalah mengungkapkan atau mengekspresikan elemen-elemen pemikul beban yang saling terkait agar dapat menunjang penampilan arsitektur bangunan


Struktur dan Arsitektur
Hubungan antara struktur dan arsitektur dapat berupa lebih dari satu bentuk hubungan yang akan mempengaruhi efek struktur terhadap arsitektur. Struktur dan arsitektur dapat berkaitan dalam berbagai cara yang beragam mulai dari dominasi struktur secara penuh pada arsitektur yang ekstrim hingga pengabaian sepenuhnya persyaratan structural dalam penentuan bentuk bangunan dan pengolahan estetikanya. Bentuk-bentuk hubungan tersebut, yang jumlahnya tak terbatas ini, dapat dikelompokkan menjadi enam bidang berikut:
• Ornamentasi struktur
• Struktur sebagai ornament
• Struktur sebagai arsitektur
• Struktur sebagai penghasil bentuk
• Struktur yang diterima
• Sturktur yang diabaikan
Jenis-jenis Hubungan antara Struktur dan Arsitektur
Ornamentasi Struktur
Dalam menentukan system struktur, bentuk ysng diambil merupakan akibat yang logis dari perlindungan struktur pada bangunan. Kategori ornamentasi stuktur merupakan salah satu versi dimana bangunan hanya memiliki perlindungan struktur yang terlihat dengan beberapa penyesuaian yang minimum untuk alasan visual. Contoh bangunan yang termasuk kategori ini adalah sebagai berikut: Gedung Parthenon di Athena, bangunan pada zaman Pertengahan Gothic, bangunan Pallaio’s Valmarana, Vicenza oleh Andrea Palladio, AEG Turbine Hall, Berlin, 1908; Arsitek Peter Behrens, bangunan Reliance Control di Swindon, UK, 1966; arsitek Team 4 dan Tony Hunt.
Struktur Sebagai Ornamen
‘estetika insinyur dan arsitektur – adalah dua hal yang bergerak bersama dan saling mengikuti.’
Hubungan antara struktur dan arsitektur dalam kategori ini meliputi manipulasi pada elemen struktur dengan criteria visual sebagai criteria utama. Hubungan ini merupakan fenomena yang sangat menonjol pada abad kedua puluh. Seperti halnya dalam kategori ornamentasi pada struktur, kategori ini juga mementingkan efek visual akan tetapi tidak seperti dalam ornamentasi pada struktur, proses desain pada kategori ini lebigh dikendalikan oleh pertimbangan visual disbanding pertimbangan teknis. Akibatnya kinerja struktur-struktur ini jauh dari ideal jika dinilai oleh criteria teknis.
Struktur sebagai ornament dapat dibedakan dalam tiga versi, sebagai berikut:
• Pada awalnya, struktur digunakan secara simbolik. Pada versi ini peralatan yang dihubungkan dengan efisiensi struktur, yang sebagian besar diapat dari industri luar angkasa dan dari ilmu pengetahuan fiksi, digunakan sebagai perbendaharaan visual yang dimaksudkan untuk menyampaikan ide etntang kemajuan dan dominasi teknologi di masa depan.
• Struktur ekspos yang mengagumkan direncanakan sebagai respon terhadap keadaan buatan yang diciptakan. Pada bangunan jenis ini, bentuk struktur yang diekspos dibenarkan secara teknis, tetapi hanya sebagai solusi untuk permasalahan teknis yang tidak perlu yang diciptakan oleh para perencana bangunan.
• Penggunan pendekatan di mana struktur diekspresikan untuk menghasilkan bangunan yang menarik denghan menggunakan teknologi terkenal, tetapi di mana tujuan visual yang diinginkan tidak cocok dengan logika structural. Tidak adanya penggunaan gambaran yang jelas-jelas berhubungan dengan teknologi maju membedakan kategori ketiga ini dari kategori yang pertama.
Struktur Sebagai Arsitektur
Dalam suatu perencanaan bangunan dimana batas dari apa yang mungkin secara teknis dikerjakan, tanpa memungkinkan kompromi terhadap persyaratan struktur. Ini adalah jenis ketiga dari hubungan antara struktur dan arsitektur yang juga diartikan sebagai struktur tanpa ornament, tetapi mungkin lebih tepatnya adalah struktur sebagai arsitektur. Batasan dari apa yang memungkinkan secara struktur dapat dicapai untuk bangunan dengan bentang sangat panjang dan sangat tinggi. Kasus lainnya adalah bila diinginkan berat struktur yang sangat ringan agar bangunan dapat mudah dipindahkan, atau adanya hal-hal teknis lainnya yang begitu penting sehingga dapat menentukan perencanaan.
Struktur Sebagai Penghasil Bentuk/ Struktur yang Diterima
Kategori ini digunakan untuk menggambarkan hubungan antara struktur dan arsitektur dimana persyaratan structural diijinkan untuk sangat kental mempengaruhi bentuk bangunan walaupun struktur tersebut sebenarnya tidak diekspos. Dalam jenis hubungan ini digunakan susunan elemen yang paling pantas secara struktur dan arsitektur dusesuaikan dengannya. Alas an mengapa kedua kasus dibedakan adalah karena bentuk kedekatan hubungan antara arsitektur dan struktur sangat bervariasi. Kadng-kadang hal ini sangat positif, dengan kemungkinan bentuk struktur yang dihasilkan dapat digunakan untu disumbangkan pada suatu gaya arsitektur. Alternative kedua, meskipun bentuk bangunan sangat ditentukan untuk memenuhi persyaratan structural, kepentingan arsitektural diletakkan di tempat lain.
Struktur yang Diabaikan dalam Proses Pembuatan Bentuk dan Bukan Bagian dari Pembentukan Estetika
Sejak pengembangan teknologi struktur dengan menggunakan baja dan beton bertulang, maka memungkinkan untuk merencanakan bangunan tanpa mempertimbangkan bagaimana struktur tersebut dapat didukung dan dibangun setidaknya pada proses tahap persiapan atau pendahuluan. Hal tersebut di atas menjadi memungkinkan karena sifat kekuatan yang dimiliki oleh baja dan beton bertulang, sehingga hamper semua bentuk dapat dibangun, selama bentuknya tidak terlalu besar dan tidak ada batasan keuangan. Kebebaasn ini merupakan kontribusi yang berarti dan sering tidak dinyatakan dalam teknologi struktur yang dibuat untuk arsitektur, dengan membebaskan arsitek dari kekangan yang dipaksakan oleh kebutuhan untuk mendukung bangunan dengan pasangan bata dan kayu.





Arsitektur Futuristik




Arsitektur Futuristik
• Futuristic mempunyai arti yang bersifat mengarah atau menuju masa depan.
• Citra futuristic pada bangunan berarti citra yang mengesankan bahwa bagunan itu berorientasi ke masa depan atau citra bahwa bangunan itu selalu mengikuti perkembangan jaman yang ditunjukkan melalui ekspresi bangunan.
• Fleksibilitas dan kapabilitas bangunan adalah salah satu aspek futuristic bangunan. Fleksibilitas dan kapabilitas sendiri adalah kemampuan bangunan untuk melayani dan mengikuti perkembangan tuntutandan persyaratan pada bangunan itu sendiri. Sedangkan kemampuan untuk melayani dan mengikuti perkembangan jaman hanya bias diwujudkan atau diimplementasikan dalam penapilan dan ungkapan fisik bangunan.
Menurut Haines (1950) dan Chiara dkk (1980) criteria diatas adalah :
 Bangunan itu dapat mengikuti dan menampung tuntutan kegiatan yang senantiasa berkembang
 Bangunan tersebut senantiasa dapat melayani perubahan perwadahan kegiatan, disini perlu dipikirkan kelengkapan yang menunjang proses berlangsungnya kegiatan
 Adanya kemungkinan penambahan ataupun perubahan pada bangunan tanpa mengganggu bangunan yang ada dengan jalan perencanaan yang matang.
• Futuristic sebagai core values atau nilai-nilai dasar BMW mengandung nilai-nilai yaitu; dinamis, estetis dan inovatif terutama dari segi teknologi yang dipakai (dinamis, canggih dan ramah lingkungan) dengan mengadopsi bentuk-bentuk bebas yang tidak terikat oleh bentuk-bentuk tertentu.
• Dalam futuristic juga perlu dipikirkan mengenai estimasi atau perkiraan
 Pengenalan akan bangunan futuristic dapat dilakukan dengan pendekatan :
Pendekatan sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia.
Salah satu carauntuk memprediksi tentang arsitektur masa depan adalah dengan mengikuti perkembangan arsitektur berteknologi tinggi yang berkembang setelah tahun 1960-an dengan cirri-ciri :
 Kebenaran struktur
 Bentuk bebas cenderung ke bentuk yang berhubungan dengan alam.
Tabel perkiraan konsep futuristic :
Dari analisa contoh-contoh bangunan pada table di atas, maka dapat disimpulkan:
 Proyeksi yang berupa hasil perhitungan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
 Pendekatan dengan penemuan hal-hal yang baru.
 Futuristic adalah lambing perubahan, dinamis dan menembus ruang tidak nampak.
Dalam ilmu arsitektur,teminologi arsitektur futuristic masih rancu atau belum dapat digolongkan ke dalam criteria arsitektur modern, late modern maupun post modern. Late modern iotu sendiri adalah mengambil ide dan bentuk dari modern movement, yang ditampilkan secara ekstrim, berlebihan dan tidak natural. Imajinasi tentang teknologi bangunan menggambarkan usaha untuk mencapai kesenangan dan keindahan semata, sedangkan post modern menyelesaikan kemonotonan arsitektur modern dengan menggabungkan unsure-unsur moder dengan lainnya sehingga bersifat ganda.
Pedoman Perencanaan Berdasarkan Ungkapan Futuristik
Dengan melihat pengerian futuristic yang ada, maka diambil kesimpulan pedoman dalm perencanaan berdasarkan ungkapan futuristic, yaitu :
• Mempunyai konsep masa depan terutama sesuai dengan paradigma perkembangan arsitektur.
Bentuk yang didapat bukan bentuk-bentuk tertentu saja, tetapi bentuk bebas yang dekonstruksi.
• Memanfaatkan kemajuan di era teknologi melalui struktur dan konstruksi menggunakan strutur yang dekonstruksi.
• Memakai bahan-bahan pre-fabrikasi dan bahan-bahan baru, seperti kaca baja aluminium, dll
• Memunculkan bentuk-bentuk baru dari arsitektur yang analog dengan musim, maksudnya adalah bentuk yang tidak bisa diduga sebelumnya, dinamis sebagai konsekuensi dari perubahan.





STRUKTUR KABEL


STRUKTUR KABEL
Ada jenis-jenis struktur yang telah banyak digunakan oleh perencana gedung, yaitu struktur pelengkung dan struktur kabel. Kedua jenis struktur yang berbeda ini mempunyai karakteristik dasar struktural yang sama, khususnya dalam hal perilaku strukturnya.

Kabel yang mengalami beban eksternal tentu akan mengalami deformasi yang bergantung pada besar dan lokasi beban eksternal. Bentuk yang didapat khusus untuk beban itu ialah bentuk funicular ( sebutan funicular berasal dari bahasa Latin yang berarti “tali”). Hanya gaya tarik yang dapat timbul pada kabel. Dengan membalik bentuk struktur yang diperoleh tadi, kita akan mendapat struktur baru yang benar-benar analog dengan struktur kabel, hanya sekarang gaya yang dialami adalah gaya tekan. Secara teoritis, bentuk yang terakhir ini dapat diperoleh dengan menumpuk elemen-elemen yang dihubungkan secara tidak kaku (rantai tekan) dan struktur yang diperoleh akan stabil. Akan tetapi, sedikit variasi pada beban akan berarti bahwa strukturnya tidak lagi merupakan bentuk funicular sehingga akan timbul momen lentur dan gaya geser akibat beban yang baru ini. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya keruntuhan pada struktur tersebut sebagai akibat dari hubungan antara elemen-elemen yang tidak kaku, tidak dapat memikul momen lentur. Karena bentuk struktur tarik dan tekan yang disebutkan di atas mempunyai hubungan dengan tali tergantung yang dibebani, maka kedua jenis struktur disebut sebagai struktur funicular.

Banyak bangunan yang menggunakan struktur funicular. Sebagai contoh, jembatan gantung yang semula ada di Cina, India, dan Amerika Selatan adalah struktur funicular tarik. Ada struktur jembatan kuno yang menggunakan tali, ada juga yang menggunakan bambu. Di Cina ada jembatan yang menggunakan rantai, yang dibangun sekitar abad pertama SM. Struktur kabel juga banyak digunakan pada gedung, misalnya struktur kabel yang menggunakan tali. Struktur ini dipakai dipakai sebagai atap amfiteater Romawi yang dibangun sekitar tahun 70 SM.

Sekalipun kabel telah lama digunakan, pengertian teoretisnya masih belum lama dikembangkan. Di Eropa, jembatan gantung masih belum lama digunakan meskipun struktur rantai-tergantung telah pernah dibangun di Alpen Swiss pada tahun 1218. Teori mengenai struktur ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1595, yaitu sejak Fausto Veranzio menerbitkan gambar jembatan gantung. Selanjtnya pada tahun 1741 dibangun jembatan rantai di Durham County, Inggris. Jembatan ini mungkin merupakan jembatan gantung pertama di Eropa.

Titik balik penting dalam evolusi jembatan gantung terjadi pada awal abad ke-19 di Amerika, yaitu pada saat James Findley mengembangkan jembatan gantung yang dapat memikul beban lalu lintas. Findley membangun jembatannya untuk pertama kali pada tahun 1810 di Jacobs Creek, Uniontown, Pennsylvania dengan menggunakan rantai besi fleksibel. Inovasi Findley bukanlah kabelnya, melainkan penggunaan dek jembatan yang diperkaku yang pengakunya diperoleh dengan menggunakan rangka batang kayu. Penggunaan dek kaku ini dapat mencegah kabel penumpunya berubah bentuk sehingga bentuk permukaan jalan juga tidak berubah. Dengan inovasi ini dimulailah penggunaan jembatan gantung modern.

Inovasi Findley dilanjutkan oleh Thomas Telford di Inggris dengan mendesain jembatan yang melintasi selat Menai di Wales (1818-1826). Louis Navier, ahli matematika Prancis yang amat terkenal, membahas karya Findley dengan menulis buku mengenai jembatan gantung, Rapport et Memoire sur les Ponts Suspends, yang diterbitkan pada tahun 1823. Navier dalam bukunya sangat menghargai karya Findley dalam hal pengenalan dek jembatan kaku.

Segera setelah inovasi Findley, banyak jembatan gantung terkenal lainnya dibangun, misalnya jembatan Clifton di Inggris (oleh Isombard Brunel) dan jembatan Brooklyn (oleh John Roebling). Banyak pula jembatan modern yang dibangun setelah itu, misalnya yang membentangi Selat Messina dengan bentang tengah sekitar 5000 ft (1525 m) dan jembatan Verazano-Narrows yang bentang tengahnya 4260 ft (1300 m).

Penggunaan kabel pada gedung tidak begitu cepat karena pada saat itu belum ada kebutuhan akan bentang yang sangat besar. Meskipun James Bogardus telah memasukkan proposal kepada Crystal Palace pada New York Exhibition pada tahun 1853, yang mengusulkan atap gedung berbentuk lingkaran dari besi tuang berdiameter 700 ft (213 m) digantung dari rantai yang memancar dan ditanam pada menara pusat, struktur pavilyun pada pameran Nijny-Novgorod yang didesain oleh V. Shookhov pada tahun 1896 dianggap sebagai awal mulanya aplikasi kabel pada gedung modern. Struktur-struktur yang dibangun berikutnya adalahpavilyun lokomotif pada Chicago World’s Fair pada tahun 1933 dan Livestock Judging Pavillion yang dibangun di Raleigh, North Carolina pada sekitar tahun 1950. sejak itu sangat banyak dibangun gedung yang menggunakan struktur kabel.



STRUKTUR MEMBRAN





STRUKTUR MEMBRAN
Membran adalah suatu lembaran bahan tipis sekali dan hanya dapat menahan gaya tarik murni. Soap film adalah membran yang paling tipis, kira-kira 0,25 mm yang dapat membentang lebar. Suatu struktur membran dapat bertahan daalm dua dimensi, tidak dapat menerima tekan dan geser karena tipisnya terhadap bentangan yang besar.

Beban-beban yang dipikul mengakibatkan lendutan, karena membran adalah bidang dua dimensi dan karena merupakan jala-jala yang saling membantu, maka bertambahlah kapasitasnya.

Ada dua karakter dasar dari kemampuan membran. Tegangan membran terdiri atas tarik dan geser, yang selalu ada dalam permukaan bidang membran dan tidak tegak lurus di atas bidang itu. Aksi membran pada dasarnya tergantung dari karakteristik bentuk geometrinya, yaitu dari lengkungan dan miringnya bidang membran.
Walaupun membran tidak begitu stabil, dapat dicarikan jalan untuk dimanfaatkan sebagai struktur. Keuntungan struktur ini ialah ringan, ekonomis dan dapat membentang luas.

Aksi struktur membran dapat ditingkatkan daya tariknya dengan tarikan sebelum pembebanan. Sebagai contoh payung dari kain.

Dengan mengadakan pratarik pada kain yang kemudian dikuncinya dengan alat apitan, rusuk-rusuk baja membuka dan mendukungnya dengan dibantu oleh batang-batang tekan yang duduk pada tangkai payung. Kain tertarik dan memberi bentuk lengkungan yang cocok untuk menahan beban. Membran kain payung dapat menerima tekanan dari luar dan dalam.
Skelet dari rusuk-rusuk baja menerima tarikan dari kain dan memperkuat seluruh permukaan bidang terhadap tekanan angin.

Struktur Pneumatik
Membran dapat diberi pra tegang dengan tekanan dari sebelah dalam apabila menutup suatu volume atau sejumlah volume yang terpecah-pecah. Dengan cara ini tersusunlah struktur pneumatik. Embran mudah menjadi bengkok dan dapat mudah ditekan oleh gas atau udara. Dalam tyeori, membran tanpa pra tegang dapat membentangi ruangan yang besar sekali dengan tekanan udara yang mengimbangi beratnya sendiri dari membran yang mengambang. Dalam praktek, membran perlu diberi prategang supaya menjadi stabil terhadap pembebanan yang tak simetris dan yang dinamis.

Stabilitas bentuk konstruksi ini dikendalikan oleh 2 faktor. Kesatu : tekanan pada tiap titik dari membran yang menyebabkan tegangan tarik harus cukup untuk menahan semua kondisi pembebanan dan untuk menjaga agar tidak terdapat tegangan tekan pada membaran. Kedua : tegangan membran pada setiap titik dengan kondisi pembebanan harus lebih kecil daripada tegangan yang diperkenankan pada bahan.

Bentu struktur pneumatik adalah karakteristik merupakan lengkungan dua arah dari lengkungan sinplastik. Bentuk dengan lengkungan searah dan lingkungan anti klasik tidak mungkin digunakan .

Lengkungan kubah adalah bentu yang cocok untuk struktur membran pneumatik, karena dapat menutupu ruangan dan dapat ditekan oleh udara yang besarnya atau kecepatannya sama kesemua arah.
Tegangan membran dalam bola atau dalam kubah tergantung pada tekanan udara dari dalam dan garis radius, yakni o = ½ . p .r (p = tekanan udara, r = radius kubah ). 





STRUKTUR LIPATAN

STRUKTUR LIPATAN 
Bentuk-bentuk ini sehari-hari banyak terlihat dan ditemukan di sekelililng kita. Jauh sebelum bentuk ini dikembangkan oleh daya kreasi manusia, bentuk struktur lipatan pada alam sebenarnya telah ada.

Bentuk lipatan ini mempunyai kekakuan yang lebih dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang datar dengan luas yang sama dan dari bahan yang sama pula. Hal ini dapat dijelaskan , karena momen energia yang didapat dari bidang datar. Dari hasil perhitungan untuk bentuk lipatan harga momen energia :I = 1/12bh3, sedangkan untuk bidang datar : I = 1/12hb3. dengan terbentuknya lipatan ini, gaya-gaya akibat berat sendiri dan gaya-gaya luar dapat di tahan oleh bentuk itu sendiri.

Maka disini dapat kita ambil suatu pengertian, yaitu : bentuk yang terjadi dari lipatan bidang-bidang dimana kekakuan dan kekuatannya terletak pada keseluruhan bentuk itu sendiri.

Konstruksi lipatan
Berdasarkan bentuk-bentuk pada alam, manusia mencoba untuk mempergunakan bentuk itu sebagai kebutuhan. Dengan bekal yang dimiliki manusia, maka konstruksi lipatan dikembangkan pula, baik dalam bentuknya maupun bahan yang dipergunakan. Bentuk lipatan ini sekarang banyak dipergunakan untuk dinding, atap, lantai, bangunan dengan berbagai bentuk dan bahan.

Penyaluran gaya
Sebelum kita meninjau penyaluran gaya pada konstruksi lipatan, terlebih dahulu kita meninjau gaya pada bentuk datar. Dalam satu bidang datar semua gaya yang bekerja dapat diuraikan menjadi :
Gaya sejajar budang dan gaya tegak lurus budang. Gaya sejajar bidang akan lebih kuat dipikul bidang daripada jika gaya dengan besar yang sama tersebut bekerja tegak lurus.

Selain tiu bidang datar lebih mudah jatuh dibanding bentuk lipatan. Hal ini disebutkan tidak adanya titik kumpul penahan gaya dan setiap titik menjadi penahan gaya dan momen. Jika gaya tersebut bekerja pada lipan, maka akan terjadi sebagai berikut :
Gaya dengan arah memanjang akan dipikul oleh bidang datar dari lipatan. Gaya dengan arah melintang, yang diuraikan menjadi 2 gaya dimana masing-masing besarnya lebih kecil daripada gaya arah melinyang tersebut.

Untuk gaya P yang bekerja pada tengah-tengah bidang, gaya diuraikan menjadi gaya sejajar bidang dan gatya tegak lurus. Sedangkan untuk gaya P yang bekerja pada rusuk-rusk lipatan (garis lipatan) akan diuraikan sejajar pada masing-masing bidang datar yang bersisian itu. Besarnya kemiringan bidang datar dari lipatan ini mementukan pula besarnya uraian dari gaya yang bekerja.

Dari uraian gaya tersebut ternyata bidang lipatan akan lebih kuat memikul gaya-gaya, baik yang arah melinyang maupun memanjang dari pada bidang datar. Karena gaya P yang diuraikan dengan arah sejajar bidang akan dipikul bidang itu sendiri, maka beban P yang harus dipikul oleh konstruksi jadi kecil.

Untuk menjaga perubahan bentuk lipatan, maka perlu untuk mempertahankan jarak h dan b serta tebal d. gaya P yang bekerja pada rusuk (B) dan (C) dan gaya H yang bekerja pada rusuk (A) akan mengakibatkan perubahan besar pada jarak b dan h. karena itu rusuk-rusuk (A), (B), (C), harus dipegang dan ditahan dengan jalan : tumpuan dipegang teguh, atau rusuk merupakann sesuatu yang kaku. Jadi disini dapat diterangkan bahwa sebenarnya menahan gaya-gaya adalah tiap-tiap bidang, sedangkan rusuk-rusuk berfungsi sebagai pemegang dan pengaku bidang. Bidang lipatan ini ada kemungkinan akan dapat melentur, tergantung panjang L. untuk harga h dan b panjang L harus ditentukan supaya tidak terjadi lenturan tersebut.

Pada tempat-tempat mencapai penjang L tersebut, diadakan bidang pengaku yang menahan terjadinya lenturan. Momen lentur yang terjadi ini adalah akibat beban merata pada lipatan atau akibat berat sendiri. Besarnya momen yang terjadi tergantung dari besarnya sudut. Makin besar sudutnya makin besar momen yang terjadi. Menurut pengalaman, sudut yang paling efektif adalah 45o.

Dari uraian gaya yang telah diterangkan, dapat disimpulkan bahwa pada konstruksi lipatan yang sangat perlu diperhatikan ialah : pencegahan adanya deformasi dan kekakuan harus dicapai.

Untuk dapat mencapai maksud di atas, harus diperhatikan : sudut lipatan, tinggi lipatan, tebal bidang datar lipatan, bidang pengaku, rusuk lipatan harus kaku dan tumpuan harus kokoh. Dapat ditambahkan pula bahwa untuk bentuk lipatan terbuka, sudut lipatan harus lebih kecil dari 40o untuk mendapatkan deformasi yang kecil. Sedangkan untuk bentuk lipatan yang tertutup sudutnya agak bebas dan terikat.





METODE PEKERJAAN STRUKTUR ATAP BAJA







   










  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar